Man to man marking dalam sepak bola merupakan strategi pertahanan terorganisir di mana pemain belakang ditugaskan menjaga pemain lawan tertentu secara khusus untuk mencegah penguasaan bola.
Strategi pertahanan ketat ini populer melalui sistem catenaccio yang diterapkan oleh klub-klub Italia seperti Inter Milan dan A.C. Milan dengan menempatkan empat pengawal orang per orang serta seorang sweeper.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejarah mencatat duel ikonik penerapan strategi ini seperti pergerakan Berti Vogts mengawal Johann Cruyff pada tahun 1974 hingga pengawalan ketat Claudio Gentile terhadap Diego Maradona.
Meskipun dianggap mulai ditinggalkan di level elite, sejumlah klub dan pelatih top seperti Marcelo Bielsa masih mengandalkan taktik ini untuk meredam pemain bintang lawan.
Perbedaan Zonal Marking dan Strategi Bertahan Modern
Zonal marking merupakan strategi pertahanan alternatif di mana para pemain bertahan menjaga area lapangan tertentu alih-alih mengikuti satu pemain lawan secara khusus.
Keunggulan utama dari sistem zonal marking adalah fleksibilitas posisi pemain saat tim berhasil merebut bola sehingga transisi serangan balik dapat dimulai dengan lebih cepat.
Mayoritas tim profesional modern saat ini menerapkan kombinasi antara man to man marking dan zonal marking dalam formasi seperti 3-5-2 demi keseimbangan lini belakang.
Komunikasi antar pemain menjadi kunci utama keberhasilan penerapan taktik zonal marking terutama saat mengantisipasi situasi bola mati seperti tendangan bebas dan sepak pojok.