Premier League chief executive Richard Masters memberikan tanggapan terkait desakan berbagai pihak, termasuk Arsenal, agar segera memberikan kejelasan mengenai proses investigasi kasus pelanggaran finansial Manchester City. Masters menyatakan bahwa komisi independen yang menangani dugaan 115 pelanggaran aturan finansial tersebut membutuhkan waktu dan ruang untuk bekerja secara tuntas.
Kasus ini telah berlangsung selama 3,5 tahun sejak Manchester City pertama kali didakwa. Tekanan publik dan klub-klub peserta Liga Inggris terus meningkat seiring lamanya penantian putusan final, terutama setelah sidang disiplin dinyatakan selesai lebih dari 18 bulan yang lalu.
Chief executive Arsenal, Richard Garlick, menjadi sosok terbaru yang menuntut kepastian hukum atas kasus tersebut. Garlick mengungkapkan bahwa setiap pihak, baik liga maupun klub peserta, sangat mengharapkan kejelasan mengenai langkah selanjutnya demi menjaga integritas kompetisi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Semua orang, termasuk liga dan tim-tim, menginginkan kejelasan mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ini bukan sesuatu yang bisa saya kendalikan atau spekulasikan, saya hanya berharap ada solusi dengan segera," ujar Garlick kepada BBC.
Masters Berdalih Proses Hukum Harus Berjalan Sesuai Aturan
Richard Masters menekankan bahwa pihaknya terikat oleh aturan kerahasiaan ketat yang melarang dirinya memberikan komentar mengenai substansi maupun jadwal pengumuman vonis kasus Manchester City. Menurutnya, satu-satunya opsi yang tersedia adalah membiarkan proses hukum mencapai kesimpulannya sendiri.
Ketika disinggung mengenai kemungkinan mempercepat persidangan, Masters menyatakan bahwa peran regulator Premier League hanyalah menyediakan bukti dan mengajukan tuduhan serius di hadapan komisi independen untuk mencari kebenaran. Ia mengakui bahwa proses ini memang memakan waktu lebih lama daripada perkiraan siapa pun sebelumnya.
Ketidakpastian ini menimbulkan rasa frustrasi di kalangan eksekutif klub papan atas Liga Inggris. Kekecewaan semakin terasa setelah klub lain, Everton, harus menanggung konsekuensi berupa denda sebesar 35 juta poundsterling atau sekitar 45,6 juta dolar AS pada Juni lalu akibat pelanggaran aturan finansial yang berbeda.
Meski demikian, Masters membantah bahwa dirinya mendapat tekanan langsung dari organisasi klub lain dalam percakapan sehari-hari. Ia menilai isu tersebut tidak selalu menjadi topik pembicaraan utama karena Premier League harus terus bergerak maju menyambut musim kompetisi baru.