Al-Ittihad Club yang sering dikenal sebagai Al-Ittihad atau Ittihad merupakan klub sepak bola profesional yang berbasis di kota Jeddah, Arab Saudi. Didirikan pada tahun 1927, klub ini berkompetisi di Saudi Pro League dan menjadi salah satu dari sedikit tim yang tidak pernah terdegradasi dari kasta tertinggi kompetisi domestik sejak awal berdirinya. Pertandingan kandang klub ini biasanya dilangsungkan di Stadion King Abdullah Sports City yang berkapasitas besar di wilayah utara Jeddah.
Sejarah panjang klub bermula dari pertemuan para tokoh sepak bola kota Jeddah di kantor perusahaan penyiaran radio pada tanggal 26 Desember 1927. Mereka berinisiatif membentuk sebuah tim pemersatu pemuda setempat untuk menyalurkan hobi berolahraga sekaligus menjadi hiburan yang kompetitif. Nama "Ittihad" yang berarti persatuan atau kesatuan dipilih berdasarkan gagasan Mazen Mohammed untuk merekatkan berbagai elemen masyarakat melalui dunia olahraga.
Era keemasan klub mulai bersinar terang pada dekade 1990-an hingga 2000-an ketika mereka mendominasi perolehan gelar juara baik di level domestik maupun regional. Puncak prestasi internasional mereka ditandai dengan keberhasilan menjuarai Liga Champions AFC secara berturut-turut serta mengamankan posisi keempat dalam ajang Piala Dunia Antarklub FIFA 2005. Konsistensi tersebut menjadikan Al-Ittihad sebagai salah satu kekuatan paling disegani dalam peta sepak bola Asia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHingga saat ini, Al-Ittihad tetap mempertahankan basis suporter yang sangat masif dan loyal di seluruh penjuru Arab Saudi maupun dunia Arab. Kehadiran para pemain bintang dunia serta komitmen pengembangan infrastruktur olahraga terus memperkuat posisi klub sebagai ikon sepak bola modern yang sarat tradisi dan prestasi.
Sejarah Pendirian dan Awal Mula
Ide pendirian Al-Ittihad muncul dari diskusi sekelompok pencinta sepak bola di Jeddah yang ingin mendirikan klub terorganisir untuk menghadapi tim-tim pelancong. Tokoh-tokoh perintis seperti Hamza Fitaihi, Abdulrazag Ajlan, Abdullah Bin Zagor, dan Ali Sultan turut hadir dalam pertemuan bersejarah tersebut. Ali Sultan kemudian didapuk sebagai presiden resmi pertama yang memimpin organisasi pada masa-masa awal pembentukannya.
Pada masa-masa awal, tantangan terbesar klub adalah minimnya dukungan formal serta ketiadaan kompetisi resmi terstruktur sebelum Federasi Sepak Bola Arab Saudi dibentuk pada tahun 1956. Kendati demikian, kemenangan gemilang 3-0 atas Al-Riyadhi dalam pertemuan pertama berhasil mendongkrak popularitas klub. Mereka juga menjuarai turnamen resmi pertama yang diadakan pada masa Raja Abdul-Aziz Al-Saud, yaitu Piala Nishan Nazer.
Dekade 1940 hingga 1950-an menghadirkan ujian tersendiri bagi perkembangan klub di tengah dinamika sepak bola nasional yang belum mapan. Namun, memasuki akhir tahun 1950-an, Al-Ittihad mencetak sejarah sebagai klub pertama yang menjuarai Piala Raja dan Piala Putra Mahkota secara berturut-turut. Kemenangan telak 7-0 atas rival sekota Al-Ahli pada tahun 1960 turut mempertegas dominasi awal mereka di kancah sepak bola lokal.
Setelah melewati fase naik turun prestasi pada era 1970-an dan 1980-an, klub mulai memasuki era keemasan baru pada paruh kedua tahun 1990-an. Berbagai trofi bergengsi mulai dari Liga Premier, Piala Putra Mahkota, hingga Piala Federasi berhasil diborong sekaligus. Momentum tersebut membangun fondasi yang kokoh bagi dominasi Al-Ittihad pada abad berikutnya di tingkat nasional maupun internasional.
Prestasi dan Perkembangan Klub
Al-Ittihad memegang rekor sebagai salah satu klub paling sukses di level domestik dengan mengoleksi belasan gelar Liga Pro Saudi, Piala Raja, dan Piala Super. Keberhasilan menjuarai Liga Champions AFC dua kali berturut-turut pada tahun 2004 dan 2005 menjadi pencapaian kontinental paling monumental dalam sejarah sepak bola Arab Saudi. Kemenangan dramatis dengan agregat luar biasa atas Seongnam Ilhwa Chunma di final tahun 2004 bahkan dikenang sebagai salah satu "mukjizat" terbesar di kompetisi Asia.
Pengaruh klub meluas hingga kancah global ketika mereka mewakili benua Asia dalam ajang Piala Dunia Antarklub FIFA 2005 di Jepang. Penampilan impresif mereka, termasuk kemenangan atas wakil Afrika Al-Ahly dan pujian dari Presiden FIFA saat itu Sepp Blatter, mengangkat martabat sepak bola Asia di panggung dunia. Reputasi tersebut diperkuat oleh kehadiran pemain-pemain kelas dunia yang silih berganti membela panji kebesaran klub.
Selain sepak bola, Al-Ittihad juga menorehkan prestasi gemilang di berbagai cabang olahraga lain seperti bola basket, bola voli, polo air, dan renang. Total ribuan trofi dari berbagai disiplin olahraga telah dikumpulkan oleh institusi ini selama hampir satu abad perjalanan mereka. Hal ini membuktikan bahwa Al-Ittihad bukan sekadar klub sepak bola, melainkan pusat pembinaan olahraga multidisiplin yang tangguh.
Persaingan sengit dengan klub-klub besar lainnya seperti Al-Hilal dalam laga bertajuk "Saudi El Clasico" selalu menjadi tontonan yang paling dinanti jutaan pasang mata. Dengan dukungan suporter yang dinobatkan sebagai salah satu yang paling berpengaruh di dunia, Al-Ittihad terus melangkah menatap masa depan dengan tradisi juara yang mengakar kuat.