Federazione Italiana Giuoco Calcio atau FIGC merupakan badan pengatur sepak bola di Italia yang berkantor pusat di Roma dan departemen teknis di Coverciano, Florence. Federasi ini bertanggung jawab mengelola sistem liga sepak bola Italia, termasuk Serie A, serta menunjuk manajemen tim nasional pria, wanita, futsal, dan kelompok umur. FIGC juga menjadi bagian penting dari struktur sepak bola Eropa dan dunia melalui keanggotaannya di FIFA dan UEFA.
Sejarah FIGC dimulai pada 26 Maret 1898 di Turin dengan nama Federazione Italiana del Football (FIF) yang didirikan melalui inisiatif Enrico D'Ovidio. Mario Vicary terpilih sebagai presiden pertama FIF pada hari yang sama. Nama FIGC resmi diadopsi pada 1909 setelah melalui proses voting melalui pos yang melibatkan klub-klub aktif. Debut tim nasional pria terjadi pada 15 Mei 1910 di Arena Civica, Milan, dengan kemenangan 6-2 atas Prancis menggunakan jersey putih, sebelum akhirnya beralih ke jersey biru khas pada 1911 sebagai penghormatan kepada House of Savoy.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFIGC bergabung dengan FIFA pada 1905 sebagai federasi amatir yang mengikuti aturan ketat. Setelah Perang Dunia I, federasi menghadapi tantangan profesionalisme terselubung, yang akhirnya diatasi melalui Carta di Viareggio pada 1926 yang mengakui pemain sebagai "non-amatir" yang berhak menerima penggantian biaya. Kebijakan ini menjadi awal dari profesionalisme di Italia, meski secara formal masih disebut amatir untuk mematuhi aturan FIFA. Pada periode 1964 hingga 1980, FIGC melarang pemain asing bermain di liga Italia untuk memulihkan kualitas tim nasional.
FIGC ditempatkan di bawah administrasi khusus pada Mei 2006 akibat skandal sepak bola Italia yang mengguncang dunia. Guido Rossi ditunjuk sebagai komisaris, sebelum digantikan Luca Pancalli, dan akhirnya Giancarlo Abete terpilih sebagai presiden pada April 2007. Abete mengundurkan diri setelah Piala Dunia 2014, digantikan Carlo Tavecchio yang kemudian mundur pada November 2017 setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018 untuk pertama kalinya sejak 1958. Kekosongan kepemimpinan diisi komisaris khusus Roberto Fabbricini hingga terpilihnya Gabriele Gravina pada Oktober 2018.
Gabriele Gravina dan Masa Depan Sepak Bola Italia
Di era kepemimpinan Gabriele Gravina, Italia meraih kesuksesan besar dengan menjadi juara Eropa di UEFA Euro 2020 pada 11 Juli 2021. Tim besutan Roberto Mancini mencatat rekor dunia 37 pertandingan tak terkalahkan dari Oktober 2018 hingga Oktober 2021. Namun, kegagalan kembali menghantam ketika Italia kalah 1-0 dari North Macedonia pada Maret 2022 di play-off kualifikasi Piala Dunia 2022, sehingga gagal lolos ke turnamen untuk kedua kalinya berturut-turut. Kritik pun muncul terhadap federasi karena dinilai lalai melakukan reformasi, terutama terkait pembinaan pemain muda dan pengendalian jumlah pemain asing berkualitas rendah di liga domestik.
Gabriele Gravina terpilih kembali sebagai presiden FIGC pada 22 Februari 2021 dengan perolehan 73,45 persen suara, mengalahkan Cosimo Sibilia yang sebelumnya mendukungnya. Gravina juga terpilih sebagai anggota Komite Eksekutif UEFA pada 20 April 2021 dengan 53 dari 55 suara, menjadi yang pertama dari delapan anggota terpilih. Namun, masa kepemimpinannya dinilai minim reformasi, tanpa perubahan signifikan pada akar rumput, kategori bawah, maupun pengembangan bakat muda Italia.
Kesuksesan Euro 2020 dianggap menutupi masalah struktural yang mendasar. Federasi juga dikritik karena dianggap lemah di mata FIFA, yang tidak pernah menjadikan Italia sebagai Tim FIFA Tahun Ini meski mencatat 37 kemenangan beruntun dan gelar juara Eropa. Pada 2021, Belgia justru menerima penghargaan tersebut meski hanya finis keempat di UEFA Nations League, dikalahkan oleh Italia di babak perebutan tempat ketiga.
FIGC berhasil mengajukan tawaran sukses untuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Eropa UEFA 2032 pada 23 Maret 2022, namun Turkey bergabung dalam penawaran tersebut pada Oktober 2023 dan keduanya ditunjuk sebagai tuan rumah bersama. Ini menjadi pertama kalinya negara-negara yang tidak berdekatan secara geografis menjadi tuan rumah bersama untuk Kejuaraan Eropa. Federasi juga menghadapi sorotan terkait pilihan venue saat melawan North Macedonia, di mana mereka memilih Stadio Renzo Barbera di Palermo dan bukan Stadio Olimpico Roma, yang dinilai sebagai bentuk meremehkan lawan.