Burial of the Coffin atau penguburan peti mati adalah tradisi unik yang dilakukan suporter Blackburn Rovers dan Preston North End setiap kali klub mereka terdegradasi. Ritual ini sudah berlangsung sejak 1948 dan menjadi bagian dari budaya sepak bola di Bamber Bridge, Lancashire.
Tradisi ini berawal dari seorang pedagang sayur di Bamber Bridge yang mengubur peti mati berisi sayuran usai Blackburn Rovers terdegradasi ke Divisi Dua pada 1948. Sayuran itu melambangkan para pemain yang dianggap tidak becus membawa tim bertahan di kasta tertinggi. Kini peti mati berisi boneka bernama Chucky dengan kostum klub.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenguburan dilakukan dengan pawai karnaval di jalanan Bamber Bridge. Para suporter berpakaian aneh, mulai dari uskup hingga biarawati, sambil diiringi band, penari, dan mobil pemadam kebakaran. Suasana lebih mirip festival daripada prosesi duka, mencerminkan selera humor khas suporter Inggris.
Saat klub kembali promosi ke divisi lebih tinggi, peti mati itu digali atau diangkat kembali. Momen ini juga dirayakan dengan pawai meriah. Pada 2001, setelah Blackburn promosi ke Premier League, peti mati diarak di Station Road dengan lima kendaraan berpendingin susu yang dihias karnaval.
Sejarah Burial of the Coffin dan Makna di Balik Ritual Unik Fans Blackburn dan Preston
Pada 2011, giliran Preston North End yang menggelar penguburan setelah terdegradasi dari Championship. Prosesi dimulai dari Church Road menuju Ye Old Hob Inn. Sementara pada 2012, Blackburn mengulang tradisi ini di Blackburn atas saran polisi, karena Bamber Bridge dianggap terlalu ramai.
Terakhir, penguburan terjadi pada Juli 2017 setelah Blackburn terdegradasi ke League One. Namun hanya setahun kemudian, tepatnya 22 Juli 2018, peti mati kembali diangkat setelah Blackburn langsung promosi ke Championship. Tradisi ini terus hidup sebagai hiburan unik di kalangan fans.
Tradisi Burial of the Coffin pertama kali digagas pada 1948 oleh seorang pedagang sayur di Bamber Bridge. Ia mengubur peti mati berisi sayuran untuk mengekspresikan kekecewaan atas degradasi Blackburn Rovers. Aksi spontan ini kemudian menjadi ritual tahunan yang ditunggu-tunggu.
Meski terkesan aneh, ritual ini justru menjadi simbol kebersamaan dan humor suporter Inggris. Mereka tidak larut dalam kesedihan berlebihan, melainkan merayakan nasib buruk klub dengan cara yang unik dan menghibur. Pawai karnaval menjadi pelipur lara sekaligus bentuk dukungan moral.