Pertandingan semifinal Piala Dunia 2014 antara Timnas Brasil dan Jerman di Stadion Mineirao, Belo Horizonte, menyisakan luka mendalam bagi publik sepak bola tuan rumah. Laga yang awalnya diprediksi berjalan ketat justru berubah menjadi pembantaian bersejarah tatkala Selecao harus takluk di tangan Der Panzer dengan skor mencolok 1-7.
Berdasarkan laporan pertandingan, Brasil tampil tanpa kekuatan penuh akibat absennya kapten Thiago Silva dan penyerang andalan Neymar. Situasi tersebut dimanfaatkan secara maksimal oleh skuad asuhan Joachim Low untuk mendominasi jalannya laga sejak menit awal pertandingan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeJerman membuka keunggulan pada menit ke-11 melalui gol Thomas Muller memanfaatkan kelengahan lini belakang tuan rumah. Gelombang serangan bertubi-tubi membuat pertahanan Brasil kian rapuh dan berantakan dalam kurun waktu paruh pertama.
Sejarah kelam tercipta ketika Miroslav Klose mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-23 sekaligus melewati rekor gol terbanyak Piala Dunia milik Ronaldo Nazario. Tidak berselang lama, Toni Kroos memborong dua gol cepat yang membuat keunggulan Jerman semakin tak terkejar oleh tuan rumah.
Keunggulan Der Panzer semakin bertambah menjelang turun minum lewat kontribusi Sami Khedira, menutup paruh pertama dengan skor telak lima gol tanpa balas. Memasuki babak kedua, Andre Schürrle menyumbangkan dua tambahan gol yang kian membenamkan mental bertanding skuad asuhan Luiz Felipe Scolari.
Brasil hanya mampu mencetak satu gol hiburan di penghujung laga melalui aksi Oscar, mengubah kedudukan akhir menjadi 1-7. Hasil minor tersebut resmi memutus rekor 62 pertandingan kandang kompetitif tanpa kekalahan yang telah dipertahankan Selecao sejak tahun 1975.
Pengamat sepak bola menilai bahwa kekalahan tersebut merupakan pukulan telak terbesar sepanjang sejarah keikutsertaan Brasil di ajang turnamen akbar empat tahunan. Deretan rekor buruk turut menghiasi malam kelabu di Belo Horizonte, termasuk rekor margin kekalahan terbesar di babak semifinal Piala Dunia.