Babak 32 besar Piala Dunia 2026 telah dimulai dan mulai memperlihatkan peta kekuatan baru sepak bola global. Dominasi Eropa dan Amerika Selatan memang belum tergoyahkan, namun batas yang selama puluhan tahun memisahkan negara besar dan berkembang semakin memudar. Format baru dengan 48 tim justru membuktikan bahwa semakin banyak negara mampu bersaing hingga fase gugur.
Afrika menjadi pemenang terbesar dari perubahan tersebut untuk pertama kalinya menghadirkan delapan wakil di babak 32 besar. Keberhasilan Maroko menembus semifinal Piala Dunia 2022 ternyata bukan kisah berdiri sendiri, karena Senegal, Mesir, Pantai Gading, Ghana, Aljazair, Republik Demokratik Kongo, Afrika Selatan, hingga Tanjung Verde kini ikut memperlihatkan kematangan sepak bola Afrika.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMereka bukan lagi sekadar tim kuda hitam, melainkan kelompok unggulan yang patut diperhitungkan. Di babak 32 besar, negara-negara Afrika akan menguji dominasi Eropa melalui serangkaian duel menarik seperti Maroko vs Belanda, Senegal vs Belgia, Aljazair vs Swiss, RD Kongo vs Inggris, serta Pantai Gading vs Norwegia.
Berbeda dengan Afrika, cerita Asia justru menghadirkan ironi ketika kuota bertambah namun hanya satu negara yang bertahan hingga babak 32 besar. Jepang menjadi satu-satunya representasi benua terbesar di dunia yang masih memiliki tempat di antara elite sepak bola internasional, dan kini memikul beban harga diri sepak bola Asia di pundaknya.
Jepang vs Brasil, Duel Captain Tsubasa yang Sarat Makna di Piala Dunia 2026
Keberhasilan Jepang bukanlah kebetulan atau proyek empat tahunan, melainkan hasil konsistensi pembangunan sepak bola selama lebih dari tiga dekade. Mereka membangun filosofi, kurikulum pembinaan usia dini, liga profesional yang sehat, hingga budaya kompetisi berkesinambungan yang menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara Asia lainnya.
Ujian berikutnya bagi Jepang datang dalam bentuk yang nyaris puitis ketika Samurai Biru harus menghadapi Brasil di babak 32 besar. Pertandingan ini mempertemukan dua filosofi sepak bola berbeda, Brasil dengan kreativitas dan bakat alami, sementara Jepang dengan disiplin, organisasi, dan kolektivitas yang menjadi benturan dua cara memandang sepak bola.
Dimensi emosional pertandingan ini sulit diabaikan karena bagi generasi 1990-an, Brasil vs Jepang seolah menghidupkan kembali kisah Captain Tsubasa. Dalam anime legendaris itu, Brasil digambarkan sebagai tanah suci sepak bola tempat setiap pemain muda bermimpi menguji kemampuannya, dan kini dunia nyata menghadirkan kisah yang hampir identik.
Jepang benar-benar berdiri di hadapan Brasil bukan sebagai murid yang datang belajar, tetapi sebagai lawan yang ingin menang. Simbolisme pertandingan ini menjadi metafora tentang perjalanan panjang sepak bola Asia yang berusaha mengejar negara-negara besar, meskipun analisis rasional tetap menempatkan Brasil sebagai favorit berkat kedalaman skuad dan tradisi di laga besar.