Sebagaimana diwartakan oleh laporan Business Insider, kehadiran teknologi kecerdasan buatan atau AI kini memicu perpecahan di kalangan serikat buruh di Amerika Serikat. Perbedaan pandangan ini sangat bergantung pada jenis sektor pekerjaan yang diwakili oleh masing-masing organisasi buruh tersebut.
Di satu sisi, serikat pekerja yang mewakili sektor konstruksi, tukang listrik, dan pipa menyambut antusias proyek pembangunan pusat data karena mendatangkan lapangan pekerjaan baru. Sebaliknya, serikat buruh dari sektor lain justru memandang AI sebagai ancaman serius bagi kelangsungan profesi anggota mereka di masa depan.
Berdasarkan laporan media tersebut, International Brotherhood of Electrical Workers secara tegas menginstruksikan para anggotanya untuk menentang segala bentuk pelarangan pembangunan pusat data. "Pelarangan semacam itu akan menghilangkan peluang penting bagi pekerja serikat dan menghambat pertumbuhan ekonomi," demikian pernyataan serikat tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSementara itu, North America's Building Trades Unions menilai fasilitas pusat data sebagai infrastruktur krusial yang menopang ekonomi digital serta keamanan nasional. Pihaknya memuji langkah pemerintah daerah yang menerapkan aturan ketat alih-alih memberlakukan moratorium total terhadap proyek-proyek tersebut.
Di sisi lain, serikat pekerja kesehatan seperti National Nurses United justru mendukung usulan moratorium nasional terhadap pembangunan pusat data guna melindungi masyarakat dan pekerja dari dampak buruk AI. Adapun federasi serikat buruh terbesar di AS, AFL-CIO, menyatakan sikap menolak moratorium tetapi tetap mendesak adanya regulasi dan pengawasan yang lebih ketat.