Elon Musk selaku CEO SpaceX mengenang masa-masa kritis ketika perusahaan teknologi penjelajahan antariksa tersebut nyaris bangkrut setelah mengalami tiga kali kegagalan peluncuran roket awal. Perusahaan komersial raksasa dunia ini dulunya berada di ambang kehancuran sebelum akhirnya berhasil melakukan peluncuran sukses yang menyelamatkan masa depan mereka.
Diskusi mengenai masa lalu tersebut bermula ketika Peter Diamandis selaku Pimpinan Eksekutif X Prize Foundation mengunggah sebuah pernyataan di platform X pada Minggu, 30 Agustus 2026. Diamandis mengingatkan publik bahwa di balik versi triliunan dolar SpaceX saat ini, roket pertama Elon Musk sempat gagal sebanyak tiga kali dan hanya menyisakan dana untuk satu kali percobaan terakhir.
Menanggapi unggahan tersebut, Elon Musk membenarkan bahwa situasi saat itu sangat menentukan kelangsungan hidup perusahaan. "Jika peluncuran keempat gagal, SpaceX tidak akan pernah ada," ujar Elon Musk melalui akun pribadinya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeRoket pertama SpaceX yakni Falcon 1 merupakan roket dua tahap yang mengalami kegagalan berturut-turut dalam peluncurannya antara kurun waktu 2006 hingga 2008. Rangkaian kegagalan tersebut membawa perusahaan ke jurang kebangkrutan hingga akhirnya berhasil mencapai orbit Bumi pada September 2008 dan mencetak sejarah sebagai roket bahan bakar cair pertama buatan swasta yang mencapai orbit.
Ekspansi Starbase dan Ambisi Peluncuran SpaceX
SpaceX kini terus memperluas ekspansi operasionalnya dengan mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pelabuhan antariksa kedua bernama Starbase di Louisiana pada 2027 mendatang. Perusahaan menargetkan peluncuran perdana dari lokasi baru tersebut dapat mulai direalisasikan pada tahun 2029.
Selain pembangunan fasilitas peluncuran baru, SpaceX juga berencana menyediakan layanan internet satelit Starlink dengan potongan harga khusus sebesar 50 persen bagi para pelanggan di area sekitar pelabuhan antariksa tersebut. Langkah ini seiring dengan ambisi besar Elon Musk agar roket Starship dapat meluncur hingga 10.000 kali dalam setahun menjelang akhir dekade ini.
Dalam perjalanannya, Peter Diamandis juga mengenang masa lalu ketika dirinya sempat berupaya meyakinkan Elon Musk agar tidak mendirikan perusahaan roket tersebut, melainkan mendanai yayasan miliknya. Namun, ia mengaku sangat bersyukur karena sang miliarder tidak mendengarkan sarannya demi kemajuan industri antariksa umat manusia.
Perkembangan pesat SpaceX saat ini telah membawanya menjadi salah satu pemain utama industri dirgantara global yang memimpin inovasi penerbangan komersial dan teknologi satelit berkecepatan tinggi.