Sebagaimana diwartakan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya seorang balita di lokasi pengungsian korban gempa Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, musibah tersebut menjadi pengingat penting bahwa kelompok anak-anak dan balita merupakan pihak yang paling rentan menghadapi berbagai risiko dalam situasi darurat bencana.
"Kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya seorang balita di pengungsian Kabupaten Nagekeo. Kami turut prihatin atas kejadian ini," ujar Arifah dalam keterangannya, sebagaimana dikutip dari laporan media.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut keterangan resmi tersebut, Arifah menekankan bahwa penanganan darurat bencana harus menempatkan aspek keselamatan dan kesehatan anak sebagai prioritas utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Karena itu, keselamatan, kesehatan, dan pemenuhan kebutuhan anak harus menjadi perhatian dan prioritas bersama," tambahnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa berbagai tantangan di lokasi pengungsian seperti keterbatasan tempat tinggal layak, cuaca ekstrem, sanitasi, hingga akses kesehatan yang kurang memadai dapat berdampak langsung pada keselamatan anak.
Menindaklanjuti insiden duka ini, Kementerian PPPA menyatakan telah berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah daerah setempat guna memastikan kebutuhan dasar serta perlindungan bagi anak-anak korban gempa terpenuhi dengan baik.