Arkeolog dunia telah mendokumentasikan lebih dari 4.400 temuan otak manusia purba yang tetap awet secara utuh selama ribuan tahun, dengan sebagian spesimen bahkan hampir mencapai usia 12.000 tahun.
Berdasarkan studi baru yang dipublikasikan dalam Journal of Proteome Research, tercatat lebih dari 1.300 kasus di mana otak menjadi satu-satunya jaringan lunak yang selamat setelah seluruh organ tubuh lainnya hancur.
Tim peneliti yang dipimpin oleh antropolog forensik Oxford, Alexandra Seviour, menganalisis bangkai tikus selama 6 bulan dalam berbagai kondisi lingkungan air dan oksigen untuk mengungkap misteri tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHasil analisis menggunakan kromatografi cair beresolusi tinggi menunjukkan bahwa ketersediaan oksigen memegang peran kunci dalam menentukan apakah jaringan otak akan bertahan atau hancur di dalam tanah.
Rahasia Ilmiah di Balik Ketahanan Otak Kuno
Lingkungan yang kaya oksigen biasanya memicu hilangnya protein secara luas dan mempercepat proses kehancuran jaringan lunak tubuh manusia setelah kematian terjadi.
Sebaliknya, kondisi lingkungan yang minim oksigen atau hipoksia justru membuat molekul-molekul tertentu membentuk ikatan kuat dengan protein di sekitarnya sehingga menolak proses dekomposisi.
Logam yang terkandung secara alami di dalam organ otak turut memicu perilaku radikal bebas ketika terpapar oksigen, yang secara paradoks mengubah proses perusakan menjadi mekanisme pengawetan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa proses pembusukan di bawah kendali kimia tertentu bukanlah kebalikan dari pengawetan, melainkan salah satu mekanisme yang melahirkan stabilitas molekuler.