Film horor psikologis The House That Jack Built dirilis pada 2018 sebagai karya terbaru dari sutradara asal Denmark, Lars von Trier. Film ini dibintangi oleh aktor Matt Dillon yang memerankan karakter utama bernama Jack, seorang pembunuh berantai yang melakukan serangkaian aksi kejahatan di negara bagian Washington selama periode 12 tahun.
Alur cerita film menggunakan struktur kilas balik di mana Jack menceritakan aksi kejahatannya kepada seorang penyair Romawi bernama Virgil, yang merujuk pada konsep naratif dari Inferno karya Dante. Produksi film ini melibatkan kerja sama lintas negara antara Denmark, Prancis, Jerman, dan Swedia dengan dukungan anggaran sebesar 8,7 juta euro.
Pemutaran perdana film ini dilaksanakan di Festival Film Cannes 2018, yang menandai kembalinya Lars von Trier ke ajang tersebut setelah lebih dari enam tahun absen. Penayangan karya ini memicu reaksi penonton yang terpolarisasi, ditandai dengan aksi walkout dari sejumlah penonton serta apresiasi berupa tepuk tangan panjang dari sebagian lainnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDari sisi pendapatan komersial, film ini mengumpulkan total box office sebesar 5.566.776 dolar AS di seluruh dunia. Sejumlah kritikus film memberikan ulasan beragam, memuji penampilan akting Matt Dillon serta arah artistik film, namun mengkritik muatan kekerasan ekstrem yang ditampilkan di dalamnya.
Respons Kritikus dan Perjalanan Produksi Film
Proses produksi film dimulai pada Maret 2017 di wilayah Swedia dan Denmark setelah Lars von Trier merampungkan naskahnya pada Mei 2016. Karakter Jack yang diperankan Matt Dillon terinspirasi dari beberapa karakteristik pembunuh berantai di dunia nyata sebelum dikembangkan menjadi sosok yang unik dalam film.
Penilaian kritikus terhadap film ini terbagi menjadi ulasan positif dan negatif di berbagai situs ulasan film seperti Rotten Tomatoes dan Metacritic. Beberapa kritikus memuji keberanian visi artistik sutradara, sementara yang lain menilai muatan visual film terlalu berlebihan dan sulit dicerna.
Meskipun menuai kontroversi tajam terkait adegan kekerasan yang ditampilkan, organisasi pelindung hewan PETA sempat memberikan pembelaan terhadap salah satu adegan dalam film. PETA memuji akurasi penggambaran psikologis terkait perilaku kekerasan terhadap hewan pada masa remaja.
Sepanjang masa peredarannya, film ini berhasil meraih berbagai penghargaan dan nominasi di kancah internasional, termasuk kemenangan dalam ajang Robert Awards untuk kategori sinematografi dan efek visual terbaik, serta beberapa penghargaan festival film lainnya.