Sebagaimana diwartakan oleh The Canberra Times, Pemerintah Fiji resmi memberlakukan pajak pariwisata baru sebesar 5 persen untuk berbagai layanan akomodasi, tur, dan kapal pesiar mulai 1 September 2026 hingga 31 Agustus 2027.
Berdasarkan laporan media tersebut, kebijakan yang diumumkan dalam Anggaran Nasional Fiji 2026-2027 ini diterapkan untuk membantu menopang maskapai nasional, Fiji Airways, di tengah lonjakan biaya bahan bakar jet serta proses pemulihan pascapandemi.
Pajak baru ini mewajibkan perusahaan pariwisata dengan omzet tahunan mencapai 2 juta dolar Fiji atau sekitar 1,25 juta dolar AS untuk mengumpulkan tambahan biaya 5 persen dari para pelanggan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKebijakan ini sempat memicu kemarahan dari asosiasi agen perjalanan Australia atau Australian Travel Industry Association (ATIA) karena aturan awalnya mewajibkan turis yang telah membayar lunas liburan masa mendatang untuk ikut menanggung biaya tambahan secara retrospektif.
Menurut CEO ATIA Dean Long, aturan penagihan surut tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap ekosistem pemesanan perjalanan, mengingat banyak keluarga yang telah melunasi liburan sekolah bulan September secara penuh.
Kendati demikian, setelah melalui pertemuan intensif dengan Pemerintah Fiji, ATIA mengonfirmasi bahwa aturan pajak tersebut tidak berlaku surut dan hanya dibebankan pada pemesanan baru yang dilakukan pada atau setelah 1 September.
Menurut Dean Long, "Ini adalah hasil yang masuk akal dan tepat, di mana penagihan secara retrospektif tidak pernah dapat diterima oleh industri, dan keputusan hari ribuan pelancong terlindungi".
Sementara itu, Global Managing Director Flight Centre Andrew Stark menyatakan bahwa setiap penyedia layanan pariwisata bertanggung jawab menentukan cara penambahan pajak tersebut pada tagihan konsumen.
Menurut Andrew Stark, "Fiji adalah destinasi yang sangat populer bagi warga Australia, dan kami biasanya tidak melihat hal seperti ini mengurungkan niat pelancong secara total, meskipun anggaran liburan perlu disesuaikan".
Berdasarkan catatan statistik pariwisata, Fiji mencatatkan rekor kunjungan tertinggi pada bulan Juli lalu dengan lebih dari 105.000 pelancong, di mana Australia menjadi pasar terbesar yang menyumbang sekitar 46.000 wisatawan atau 43 persen dari pangsa pasar.