Berdasarkan laporan media Marca, kembalinya aktivitas normal setelah masa liburan kerap menghadirkan sebuah paradoks tersendiri bagi sebagian besar orang. Di satu sisi, ada keinginan untuk segera merapikan kembali jadwal harian, namun di sisi lain terdapat kecenderungan untuk melakukannya secara terburu-buru tanpa memberikan ruang adaptasi bagi tubuh dan pikiran.
Perubahan drastis dari suasana liburan yang santai menuju tumpukan tugas di kantor dapat memicu tekanan pada sistem saraf yang belum sepenuhnya siap. Menurut coach spesialis relasi dan kedukaan, Sara Manzaneque, kesalahan umum yang sering dilakukan adalah langsung menuntut produktivitas tingkat tinggi sejak hari pertama kembali bekerja.
Mengutip ulasan tersebut, memaksakan diri mencapai performa maksimal secara instan justru berisiko mendatangkan kelelahan, stres, penurunan konsentrasi, hingga masalah tidur. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih bijak adalah memulai kembali rutinitas dari tahap paling minimal dan realistis yang dapat dipertahankan tanpa harus melampaui batas kemampuan fisik maupun mental.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain itu, tekanan sosial dari media sosial sering kali memperparah kondisi ini melalui standar pencapaian yang tidak realistis di awal bulan September. Padahal, masa transisi ini merupakan proses adaptasi yang wajar, di mana seseorang diperbolehkan untuk berjalan secara perlahan demi menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan emosional tetap seimbang.