Bintang raksasa IRS 3 yang berada di dekat lubang hitam supermasif Sagittarius A* di pusat galaksi Milky Way mengejutkan para astronom karena masih mampu memproduksi debu silikat serta menyimpan molekul air di tengah lingkungan radiasi ekstrem. Berdasarkan pengamatan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb, bintang tersebut membuktikan ketangguhannya dalam menghadapi terjangan angin kosmik dan medan gravitasi yang sangat kuat.
Menurut pengamatan tim peneliti dari University of Cologne, Florian Peißker, pusat galaksi merupakan salah satu kawasan paling ganas di alam semesta. Dari analisis Kabayan News, ketahanan bintang IRS 3 memberikan pandangan baru mengenai bagaimana materi rapuh pembentuk planet sanggup bertahan hidup di area berbahaya tersebut.
Bintang IRS 3 diidentifikasi sebagai raksasa merah berusia sekitar 72 juta tahun dengan massa enam kali lipat matahari yang sedang mendekati akhir siklus hidupnya. Mengutip laporan dari pengamatan instrumen MIRI James Webb, spektrum inframerah berhasil mengungkap karakteristik kimiawi bintang ini secara akurat tanpa keraguan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeData terbaru memecahkan perdebatan panjang di kalangan ilmuwan mengenai komposisi kimia IRS 3 yang sebelumnya sempat diduga kaya akan karbon. Sebagaimana dilaporkan, analisis spektrum menunjukkan keberadaan fitur penyerapan khas dari debu berbasis silikat kaya oksigen.
Temuan yang lebih mencengangkan adalah deteksi molekul air di dalam selubung material yang mengelilingi bintang tersebut. Mengingat molekul air sangat rentan hancur akibat radiasi ultraviolet dan sinar-X dari lubang hitam, para ahli menyimpulkan bahwa cangkang debu tebal milik IRS 3 berfungsi sebagai pelindung alami yang ampuh.
Peneliti ESA, Macarena Garcia Marin, menjelaskan bahwa kemampuan instrumen inframerah canggih berperan penting dalam mengungkap identitas kimiawi bintang raksasa ini secara menyeluruh. Melalui pemodelan komputer menggunakan kode Hyperion, para peneliti memastikan bahwa cangkang gas dan debu bintang tersebut berlapis-lapis dengan gradien suhu bervariasi.