Pelajaran berharga mengenai pemulihan siber pernah dicatat oleh perusahaan pelayaran Maersk tatkala serangan NotPetya melumpuhkan seluruh salinan Active Directory mereka pada tahun 2017. Berdasarkan analisis Kabayan News, insiden tersebut membuktikan bahwa pemulihan tidak pernah dimulai dari titik pemulihan yang bersih dan terisolasi, melainkan dari keberuntungan sebuah kantor cabang di Lagos, Nigeria, yang sempat offline sehingga menyimpan salinan utuh. Peristiwa ini menggarisbawahi bahwa lapisan identitas memegang kendali penuh atas siapa saja yang dapat mengakses seluruh beban kerja perusahaan, bukan sekadar data biasa yang dapat dipulihkan begitu saja.
Tantangan terbesar saat ini terletak pada kecepatan serangan siber modern yang melampaui kemampuan respons banyak organisasi. Sebagaimana dilaporkan dalam laporan "Identity Under Attack" oleh Veeam, terdapat jurang kepercayaan yang semakin melebar di kalangan industri teknologi. Sebesar 69 persen organisasi meyakini bahwa mereka sudah sangat siap menghadapi insiden siber, namun faktanya hanya 10 persen saja yang benar-benar sanggup memulihkan lebih dari 90 persen data ketika lapisan identitas ikut terdampak dalam insiden tersebut.
Mengutip laporan tersebut, akar ketahanan siber sebuah perusahaan sangat bergantung pada sejauh mana lapisan identitas dapat dikembalikan ke kondisi tepercaya. Ancaman siber masa kini sering kali tidak menampilkan malware secara langsung di perangkat akhir, melainkan memanfaatkan hubungan kepercayaan yang memang sengaja dibangun perusahaan untuk pekerjaan sah. Pelaku kejahatan dapat menyalahgunakan kredensial sah, mengubah izin SharePoint, atau memanfaatkan token OAuth untuk mengakses data sensitif tanpa memicu peringatan sistem keamanan konvensional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemulihan identitas memiliki perbedaan mendasar jika dibandingkan dengan pemulihan data tradisional yang hanya mencakup satu folder atau aplikasi tertentu. Kerusakan pada satu kredensial dapat merembet menjadi tiga kredensial sekaligus di berbagai platform seperti Active Directory, Entra ID, hingga Okta, sehingga memberikan akses bebas bagi peretas ke berbagai layanan cloud. Tanpa membersihkan lapisan identitas secara menyeluruh, upaya pemulihan data biasa justru membuka kembali jalan bagi penyerang untuk menyusup dan melanjutkan aksi pencurian data.
Guna mengatasi kerentanan tersebut, koordinasi erat antara tim pemulihan IT dan operasi keamanan menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan siber perusahaan. Peningkatan adopsi kecerdasan buatan menuntut para Chief Information Security Officer untuk lebih proaktif dalam merencanakan pemulihan terpadu sebelum insiden benar-benar terjadi. Penggabungan perangkat pemulihan yang terfragmentasi serta pengujian strategi pemulihan secara berkala akan memastikan organisasi mampu meminimalkan waktu henti serta mempertahankan kepercayaan pemangku kepentingan.