Perusahaan konsultan manajemen Accenture baru saja memangkas 11.000 posisi pekerjaan akibat efisiensi chatbot canggih, sementara raksasa teknologi Oracle dan firma hukum Baker McKenzie turut melakukan PHK ribuan tenaga kerja.
Berdasarkan analisis Kabayan News, gelombang disrupsi tenaga kerja profesional atau kerah putih akibat adopsi kecerdasan buatan kini melanda berbagai sektor di seluruh dunia secara merata tanpa memandang wilayah.
Namun demikian, terdapat perbedaan nasib yang sangat kontras antara perekonomian Benua Biru dan Amerika Serikat dalam menghadapi proses destruksi kreatif teknologi modern ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana dilaporkan oleh Matthew Lynn melalui The Spectator, tingkat pengangguran di Prancis melonjak hingga mencapai 8,3 persen pada kuartal kedua, sementara Jerman serta Inggris juga mengalami kesulitan serupa dalam penyerapan tenaga kerja.
Sebaliknya, pasar tenaga kerja di Amerika Serikat tetap bertahan perkasa dengan angka pengangguran stabil di kisaran 4,1 persen di tengah guncangan ekonomi global serta penyesuaian tarif perdagangan.
Dari analisis Kabayan News, ketimpangan tajam ini terjadi karena investasi infrastruktur kecerdasan buatan di Amerika Serikat mencapai ratusan miliar dolar yang secara masif menciptakan lapangan kerja baru di sektor pendukung.
Sebaliknya, Eropa tertinggal jauh dalam belanja modal teknologi serta terbebani oleh regulasi ketat dan biaya energi tinggi sehingga kawasan tersebut hanya merasakan dampak negatif berupa pemangkasan tenaga kerja tanpa diimbangi penciptaan posisi baru.