Gubernur Sumatera Selatan memegang peranan penting dalam menjalankan roda pemerintahan daerah bersama wakil gubernur yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Provinsi ini memiliki sejarah kepemimpinan yang kaya dinamika, berakar dari masa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia melawan agresi militer kolonial Belanda.
Masa pemerintahan peralihan dari penjajahan Jepang menuju kemerdekaan ditandai pengangkatan Adnan Kapau Gani sebagai Residen Palembang pada 24 Agustus 1945. Penunjukan tokoh pergerakan kemerdekaan tersebut dilakukan oleh Menteri Negara Mohammad Amir dan Gubernur Provinsi Sumatera Teuku Muhammad Hasan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemerintah pusat kemudian mempercayakan Adnan Kapau Gani sebagai gubernur muda untuk wilayah kerja Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, dan Lampung. Langkah strategis ini memperkuat struktur pemerintahan lokal di tengah situasi gejolak revolusi fisik yang melanda nusantara.
Memasuki tahun 1946, Mohamad Isa mengemban tugas sebagai Residen Palembang sekaligus merangkap gubernur muda Provinsi Sumatera Selatan. Posisi tersebut dikukuhkan secara resmi pada Mei 1948 ketika ia diangkat penuh menjadi Gubernur Sumatera Selatan menggantikan Adnan Kapau Gani.
Dinamika Gubernur Militer dan Era Normalisasi Pemerintahan
Pecahnya Agresi Militer II menuntut langkah antisipasi taktis untuk mempertahankan kedaulatan wilayah Sumatera Selatan dari ancaman musuh. Musyawarah di Curup pada 23 Desember 1948 memutuskan pengangkatan Adnan Kapau Gani sebagai Gubernur Militer Daerah Militer Istimewa Sumatera Selatan.
Koordinasi antara bidang sipil dan militer berjalan saling mengisi di bawah kepemimpinan Adnan Kapau Gani dan Mohamad Isa sebagai komisaris pemerintah. Sinergi tersebut memastikan perlawanan total terhadap agresi Belanda tetap berjalan efektif tanpa menimbulkan kebingungan birokrasi.
Penyelesaian konflik melalui Perjanjian Roem Roijen dan Konferensi Meja Bundar membawa angin segar bagi normalisasi pemerintahan sipil di daerah. Surat Keputusan Perdana Menteri RI pada 17 Desember 1949 resmi mengakhiri status Gubernur Militer terhitung mulai 1 Januari 1950.
Serah terima jabatan dari Adnan Kapau Gani kepada Mohamad Isa dilangsungkan di Palembang pada 17 Februari 1950 untuk mengembalikan sistem pemerintahan sipil seperti semula. Estafet kepemimpinan terus berlanjut dari masa ke masa hingga melahirkan berbagai figur kepala daerah yang membangun Sumatera Selatan.