Glorious Revolution atau Revolusi Gemilang pada November 1688 merupakan peristiwa bersejarah ketika Raja James II dari Wangsa Stuart didepak dari tahta Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, kejatuhan sang penguasa dipicu oleh kebijakan agama serta upaya memaksakan kekuasaan mutlak yang mengasingkan dukungan dari para ningrat Protestan. Kursi kepemimpinan kemudian diduduki oleh putrinya sendiri, Mary II, bersama sang suami yang merupakan penguasa Belanda, William III of Orange.
Mengutip catatan sejarah, James II sebenarnya naik tahta pada Februari 1685 dengan dukungan luas dari mayoritas Protestan di Inggris dan Skotlandia, serta umat Katolik di Irlandia. Namun, kebijakan pro-Katolik serta penolakan terhadap undang-undang uji coba membuat legitimasi pemerintahannya runtuh secara perlahan. Situasi semakin memanas setelah kelahiran putranya, James Francis Edward Stuart, pada Juni 1688 yang memicu kekhawatiran lahirnya dinasti Katolik permanen di Inggris.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSituasi genting tersebut mendorong para penentang domestik melayangkan undangan kepada penguasa Belanda agar memberikan dukungan militer demi menyingkirkan sang raja. Sebagaimana dilaporkan, William III of Orange yang juga mengkhawatirkan aliansi antara James II dan Prancis dalam Nine Years" War, memanfaatkan momentum ini untuk mendarat di Devon membawa pasukan pada 5 November 1688. Di tengah pergerakan pasukan menuju London, barisan pertahanan Raja James hancur lebur tanpa perlawanan berarti.
Menghadapi kehancuran kekuatan militernya, James II memilih melarikan diri ke pengasingan di Prancis pada 23 Desember 1688, meninggalkan kekosongan kekuasaan yang segera diisi melalui jalur politik. Pada April 1689, konvensi khusus resmi mengangkat William dan Mary sebagai penguasa gabungan Inggris dan Irlandia, disusul penyelesaian serupa di wilayah Skotlandia pada Juni 1689. Dari analisis Kabayan News, revolusi damai ini menandai kemenangan besar Parlemen atas kekuasaan absolut Mahkota Raja.
Dampak jangka panjang dari peristiwa monumental ini tidak hanya mengubah peta kekuatan domestik, tetapi juga membentuk aliansi strategis antara Inggris dan Belanda dalam membendung ekspansi Prancis di daratan Eropa. Gerakan politik kaum Jacobite yang setia kepada keturunan Wangsa Stuart sempat bertahan hingga akhir abad ke-18, meski tidak pernah mampu membalikkan keadaan. Sejarawan hingga kini tetap memandang invasi yang dipimpin oleh William of Orange sebagai invasi asing sukses terakhir di tanah Inggris.