Harga minyak dunia mengalami kenaikan signifikan seiring kebuntuan negosiasi antara Iran dan Oman terkait pembukaan kembali jalur perdagangan penting di Selat Hormuz. Kontrak berjangka Brent ditutup mendekati level 87 dolar AS per barel setelah mencatatkan kenaikan lebih dari 5 persen dalam tiga sesi perdagangan sebelumnya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah semakin memanas menyusul serangan terhadap sebuah kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Co. serta klaim serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kilang Jazan milik Arab Saudi. Insiden tersebut langsung memukul pasar energi global dan memperketat pasokan produk sulingan di tengah pembatasan ekspor bahan bakar dari Rusia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut ekonom iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, kesepakatan damai untuk membuka kembali jalur perairan strategis tersebut belum terlihat dalam waktu dekat. Pasar diperkirakan terus bergejolak dalam kisaran harga 80 hingga 90 dolar AS per barel selama belum ada perubahan status quo yang signifikan.
Di tengah situasi yang memanas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih mengambil sikap lebih tenang dan menyatakan tidak ingin terburu-buru mengambil tindakan agresif. Meskipun demikian, lalu lintas kapal di Selat Hormuz terpantau masih sangat lambat dengan hanya sekitar lima kapal yang melintas setiap harinya.
Para pengamat pasar energi menilai bahwa risiko geopolitik akan terus menopang tren kenaikan harga minyak mentah di tengah ketidakpastian pasokan global. Selama arus pengiriman logistik belum kembali normal sepenuhnya, pasar minyak diprediksi tetap berada dalam tekanan sentimen bullish.