Sistem penjadwalan teleskop berbasis kecerdasan buatan berhasil diuji coba untuk pertama kalinya dalam mengamati langit malam secara otonom. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, inovasi mutakhir ini dikembangkan oleh para peneliti dari Northwestern University, University of Chicago, serta Fermilab milik Departemen Energi Amerika Serikat.
Penggunaan kecerdasan buatan dalam dunia astronomi dinilai mampu merevolusi cara kerja observatorium modern. Mengutip laporan dari Digital Journal, teknologi tersebut terbukti mampu membuat keputusan pengamatan yang kompleks secara real-time sekaligus beradaptasi dengan perubahan kondisi atmosfer sepanjang malam.
Selama ini, proses penjadwalan pengamatan teleskop sangat bergantung pada keahlian para astronom berpengalaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Alex Drlica-Wagner selaku profesor astronomi dan astrofisika di University of Chicago, fasilitas teleskop besar merupakan sumber daya sains internasional yang setiap menit waktu pengamatannya memiliki nilai sangat tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTim peneliti melatih model pembelajaran mendalam menggunakan data historis pengamatan selama 13 tahun dari Dark Energy Survey. Berdasarkan analisis Kabayan News, sistem kecerdasan buatan ini tidak diprogram dengan aturan manual, melainkan belajar secara mandiri dari pola keputusan yang dibuat oleh para astronom manusia di masa lalu.
Uji coba lapangan dilakukan menggunakan Dark Energy Camera beresolusi 570 megapiksel di NSF VĂctor M. Blanco Telescope, Chili. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penjadwal berbasis kecerdasan buatan ini mampu menyamai tingkat performa operator manusia berpengalaman dalam menyusun rencana pengamatan yang adaptif terhadap cuaca.