Tragedi yang menimpa profesor asal Inggris, Jason Arday, kembali membuka mata publik mengenai dampak buruk perundungan siber. Sebagaimana diwartakan oleh laporan media, kematian Arday justru memicu gelombang kritik yang keliru dengan menyalahkan media massa konvensional atas tekanan yang diterimanya.
Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, gelombang kebencian dan perundungan paling masif justru terjadi di berbagai platform media sosial. Berdasarkan laporan, para warganet anonim kerap melontarkan ujaran kebencian tanpa mematuhi standar jurnalistik maupun kode etik penulisan yang jelas.
Banyak pihak menilai bahwa media massa konvensional memiliki tanggung jawab profesi serta kode etik yang jelas dalam menginvestigasi figur publik. Mengutip laporan media, penyelidikan jurnalis terkait latar belakang Arday merupakan bagian dari kepentingan publik karena menyangkut institusi pendidikan bergengsi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeIronisnya, alih-alih menyoroti bahaya kecanduan dan minimnya regulasi platform digital, sebagian kalangan justru kembali mendesak investigasi publik terhadap media massa. Tuntutan tersebut dinilai sebagai bentuk pengalihan isu dari ancaman nyata yang ditimbulkan oleh ekosistem media sosial yang kian tak terkendali.