Dunia jurnalistik internasional tengah menyoroti kasus pilu yang menimpa Christophe Gleizes, seorang jurnalis senior dari media olahraga ternama Prancis, So Foot. Sudah dua tahun lamanya Gleizes mendekam di balik jeruji besi di Aljazair, sebuah situasi yang memicu kecaman luas dan menjadi simbol nyata dari kriminalisasi profesi jurnalis di era modern.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Bagi pembaca setia So Foot, nama Christophe Gleizes tentu tidak asing lagi. Lebih dari satu dekade menjadi pilar di redaksi, ia dikenal sebagai spesialis peliput sepak bola Afrika yang andal. Mulai dari investigasi marabout di Pantai Gading, fenomena sepak bola jalanan "kasi flava" di Afrika Selatan, hingga kisah hidup Samuel Eto'o di Kamerun, semuanya pernah ia ulas dengan gaya tulisan yang lugas dan berani.
Kisah kelam ini bermula pada Mei 2024 lalu ketika Gleizes berangkat ke Aljazair. Ia berniat melakukan liputan mendalam mengenai kejayaan sepak bola lokal, termasuk profil klub Jeunesse sportive de Kabylie (JSK) dan wawancara dengan Patrice Beaumelle yang kala itu melatih Mouloudia d'Alger. Berbekal pena, buku catatan, laptop tua, dan paspor, ia terbang untuk menjalankan tugas jurnalistiknya.
Namun, nasib malang menimpanya saat berada di Tizi-Ouzou pada 28 Mei 2024. Pihak berwenang Aljazair menangkap Gleizes dan menyita seluruh dokumen perjalanannya. Persoalan administratif muncul karena ia masuk menggunakan visa turis, hal yang terpaksa dilakukan oleh banyak jurnalis asing akibat ketatnya birokrasi dan sulitnya memperoleh visa jurnalistik di negara tersebut.
Situasi semakin memburuk setelah pemeriksaan menyeluruh terhadap perangkat elektronik miliknya. Meski kepolisian yudisial Aljazair tidak menemukan satu pun bukti tulisan, rekaman, maupun publikasi yang mengarah pada tindakan propaganda terorisme, Gleizes tetap dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara. Tuntutan hukum tersebut didasarkan pada riwayat komunikasi profesionalnya dengan narasumber yang dianggap otoritas setempat sebagai bagian dari gerakan separatis.
Pihak redaksi So Foot dan rekan sejawat menegaskan bahwa komunikasi tersebut murni merupakan bagian dari tugas jurnalistik untuk memverifikasi informasi dan memahami sebuah isu, bukan bentuk dukungan terhadap ideologi narasumber. Kini, setelah sempat menjalani tahanan rumah dan berpindah ke Penjara Kolea, kondisi kesehatan Gleizes dikabarkan terus menurun akibat isolasi dan kerinduan mendalam pada keluarganya.
Kini, harapan terakhir berada di tangan Presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune, melalui mekanisme grasi presiden. Gelombang dukungan terus mengalir dari berbagai elemen, mulai dari kalangan suporter, sesama jurnalis, hingga organisasi sepak bola tertinggi dunia, FIFA, yang mengutuk keras penahanan ini dan menuntut kebebasan penuh bagi Christophe Gleizes.