Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Kisah Konferensi Bandung, Tonggak...
BERITA

Kisah Konferensi Bandung, Tonggak Sejarah Solidaritas Global South

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 11 Agustus 2026
Gedung Merdeka di Bandung lokasi bersejarah Konferensi Asia Afrika 1955

Gedung Merdeka di Bandung lokasi bersejarah Konferensi Asia Afrika 1955

Konferensi Bandung atau Konferensi Asia-Afrika (KAA) merupakan pertemuan bersejarah bagi negara-negara di benua Asia dan Afrika yang baru merdeka pada 18 hingga 24 April 1955 di Kota Kembang, Jawa Barat. Sebanyak dua puluh sembilan negara berpartisipasi dalam agenda besar tersebut dengan mewakili total populasi 1,5 miliar orang atau sekitar 54% dari populasi dunia secara keseluruhan.

Indonesia memegang peran penting sebagai tuan rumah bersama Burma, India, Ceylon, dan Pakistan, serta dikoordinasikan langsung oleh Roeslan Abdulgani selaku sekretaris jenderal Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mempromosikan kerja sama ekonomi serta budaya lintas benua sekaligus menentang segala bentuk kolonialisme dan neokolonialisme.

Perhelatan akbar ini mencerminkan awal munculnya identitas politik tersendiri bagi negara-negara bekas jajahan yang berusaha memperjuangkan hak menentukan nasib sendiri dan kemandirian ekonomi. Konsep tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi utama dalam hubungan internasional pasca-kolonial serta melahirkan Gerakan Non-Blok.

Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno tampil sebagai figur sentral yang memimpin kelompok negara-negara berkembang tersebut. Melalui forum internasional ini, semangat anti-kolonialisme disuarakan secara kolektif untuk mengubah peta kekuatan dunia di tengah ketegangan Perang Dingin.

Lahirnya Dasasila Bandung dan Dampak Global KAA

Soekarno

Dasasila Bandung lahir sebagai sepuluh poin deklarasi penting mengenai dukungan bagi kedamaian dan kerja sama dunia yang diadopsi dengan suara bulat oleh seluruh negara peserta konferensi. Prinsip-prinsip tersebut mengombinasikan nilai luhur Piagam PBB untuk memperkuat posisi tawar negara berkembang di kancah internasional.

Komunike akhir dari pertemuan monumental itu menggarisbawahi perlunya negara-negara berkembang untuk melonggarkan ketergantungan ekonomi pada negara industri terkemuka. Langkah strategis tersebut diwujudkan melalui pertukaran ahli, bantuan teknis proyek pembangunan, hingga pembentukan lembaga pelatihan regional.

Peringatan setengah abad konferensi ini diselenggarakan kembali pada tahun 2005 di Jakarta dan Bandung dengan meluncurkan Kemitraan Strategis Asia-Afrika atau NAASP. Para pemimpin dunia sepakat untuk terus mempromosikan kerja sama politik, ekonomi, serta budaya secara berkelanjutan.

Semangat persatuan yang digelorakan di Gedung Merdeka puluhan tahun silam tetap relevan hingga kini dalam kerangka kerja sama multilateral modern. Warisan pemikiran para pendiri bangsa terus hidup menjadi inspirasi bagi soliditas negara-negara di belahan selatan bumi.

Topics
konferensi bandung kaa sejarah soekarno dasasila bandung asia afrika gerakan non-blok kolonialisme indonesia bandung
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.