Korea AeroSpace Administration (KASA) secara resmi menandatangani perjanjian kerja sama dengan NASA untuk mengirimkan instrumen pendeteksi radiasi ke kutub selatan Bulan. Instrumen bernama Lunar Vehicle Radiation Dosimeter (LVRAD) ini akan diikutsertakan dalam misi pendaratan komersial Amerika Serikat yang direncanakan meluncur pada tahun 2030.
LVRAD merupakan perangkat kompak yang dikembangkan oleh Korea Astronomy and Space Science Institute. Tujuan utama dari penggunaan alat ini adalah untuk menganalisis tingkat radiasi secara langsung di permukaan Bulan guna melindungi kru astronot dan peralatan elektronik dari paparan radiasi kosmik selama misi jangka panjang.
Administrator KASA, Oh Tae-seok, menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan langkah krusial dalam memperkuat kerja sama eksplorasi luar angkasa. "Kerja sama ini akan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi KASA dan NASA demi pembangunan pangkalan Bulan di masa depan," ujar Oh Tae-seok dalam keterangan resminya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeProyek ini merupakan bagian dari program Commercial Lunar Payload Services milik NASA yang melibatkan perusahaan kedirgantaraan swasta. Korea akan mengintegrasikan perangkat LVRAD ke dalam pendarat yang dibangun oleh perusahaan Intuitive Machines asal Houston.
Tantangan Radiasi di Permukaan Bulan
Kutub selatan Bulan menjadi target utama bagi pembangunan pangkalan manusia di masa depan karena keberadaan deposit es air yang melimpah di wilayah tersebut. Namun, wilayah ini juga menyimpan tantangan besar berupa paparan radiasi kosmik yang sangat berbahaya bagi manusia dan peralatan teknologi.
Berbeda dengan Bumi yang memiliki lapisan atmosfer tebal dan medan magnet kuat sebagai pelindung alami, Bulan terus-menerus terpapar oleh sinar kosmik galaksi dan peristiwa partikel surya. Kondisi inilah yang membuat pemetaan lingkungan radiasi menjadi prioritas bagi lembaga antariksa dunia.
Modul LVRAD yang dikembangkan Korea dirancang dengan menggabungkan dua instrumen utama, yaitu dosimeter radiasi dan spektrometer. Alat ini akan mengukur penyerapan total radiasi menggunakan material yang menyerupai jaringan manusia agar para ilmuwan dapat menilai dampak biologis secara akurat.
Selain itu, spektrometer neutron di dalam modul tersebut akan mendeteksi neutron cepat dan termal. Data yang dihasilkan dari pengukuran ini nantinya akan memetakan risiko lingkungan secara mendetail di permukaan Bulan untuk menentukan standar keamanan pendaratan berikutnya.
Ambisasi Korea dalam Eksplorasi Ruang Angkasa
Kemitraan strategis ini menegaskan ambisi Korea untuk menjadi pemain utama dalam eksplorasi ruang angkasa dalam. Sejak peluncuran KASA awal tahun ini, Korea terus berupaya memperluas pengaruhnya di komunitas sains luar angkasa global melalui kerja sama internasional.
Langkah ini juga mencerminkan hubungan bilateral yang semakin erat antara Seoul dan Washington dalam sektor antariksa. Keikutsertaan Korea dalam inisiatif NASA memperkuat kontribusi negara tersebut dalam kerangka misi Artemis yang lebih luas yang dipimpin oleh AS.
KASA menjadwalkan penyelesaian model penerbangan LVRAD pada tahun 2027 sebelum menyerahkannya kepada NASA untuk integrasi. Setelah ditempatkan di Bulan, NASA akan bertanggung jawab atas transmisi data kembali ke Bumi, yang kemudian hasilnya akan dibagikan kepada tim ilmuwan internasional.
Laporan teknis menyatakan bahwa KASA berkomitmen untuk terus memperluas kemitraan internasional demi meningkatkan kemampuan eksplorasi lunar nasional. Kontribusi ini diharapkan mampu memberikan wawasan baru dalam menghadapi bahaya lingkungan Bulan yang ekstrem.
__QUOTE__ "Kerja sama ini akan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi KASA dan NASA demi pembangunan pangkalan Bulan di masa depan," ujar Administrator KASA, Oh Tae-seok."