Mengenal sejarah Kalimantan Tengah memberikan gambaran mendalam tentang perjalanan panjang sebuah wilayah besar di Pulau Kalimantan yang kini beribu kota di Palangka Raya. Berdasarkan catatan literatur, provinsi ini mencatat luas wilayah mencapai 153.564,50 kilometer persegi dengan populasi mencapai jutaan jiwa yang tersebar di berbagai kabupaten serta kota.
Berdasarkan legenda suku Dayak yang termuat dalam Panaturan Tetek Tatum tulisan Tjilik Riwut, penginjak bumi pertama di tanah ini adalah Raja Bunu. Pengamatan tim redaksi menunjukkan bahwa akar kebudayaan lokal di wilayah ini sangat lekat dengan tradisi leluhur sebelum masuknya pengaruh kekuasaan luar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMemasuki abad ke-14, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Maharaja Supayaryanata selaku gubernur Majapahit yang memimpin Kerajaan Negara Dipa berpusat di Candi Agung. Mengutip laporan historis, daerah-daerah mandala membentang dari Tanjung Silat sampai Tanjung Puting, mencakup aliran sungai besar seperti Barito, Kahayan, hingga Pembuang.
Perkembangan zaman membawa pengaruh Islam masuk ke Kotawaringin sekitar tahun 1520 seiring kekuasaan Kesultanan Demak di pantai selatan. Sebagaimana dilaporkan dalam catatan sejarah, Kesultanan Banjar kemudian mendirikan Kerajaan Kotawaringin pada tahun 1615, sementara kawasan pedalaman tetap otonom menjalankan hukum adat Dayak di bawah pimpinan kepala suku.
Pengaruh kolonial mulai masuk ketika VOC-Belanda melakukan kontrak pertama dengan Kotawaringin pada tahun 1637. Proses penguasaan berlanjut melalui berbagai traktat penyerahan wilayah dari Sultan Banjar kepada pihak kolonial hingga akhirnya wilayah pedalaman tunduk secara de facto pasca Perjanjian Tumbang Anoi pada tahun 1894.