Henri MacLaine Pont lahir pada 21 Juni 1885 dan dikenal sebagai arsitek populer di Hindia Belanda selama paruh pertama abad ke-20. Berdasarkan catatan sejarah, arsitek berdarah campuran Skotlandia, Spanyol, Huguenot, serta keturunan Buru dari garis ibu ini mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk perkembangan rancang bangun Nusantara.
Perjalanan kariernya dimulai setelah ia menamatkan pendidikan arsitektur di Institut Teknologi Delft di Belanda. Sekembalinya ke Hindia Belanda, ia mendirikan firm perancangan bangunan dengan mengawali konsep modifikasi gaya Eropa agar sesuai dengan kondisi iklim tropis lokal yang lembap dan bersuhu tinggi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengalaman mendalam dalam menangani berbagai candi kuno, terutama di kawasan Trowulan, mengubah total orientasi perancangannya menjadi upaya memodernisasi gaya bangunan tradisional lokal. Namanya lantas sejajar dengan Thomas Karsten berkat kontribusi besar mereka dalam mempopulerkan arsitektur bercorak Indisch.
Sejumlah karya monumental peninggalannya masih berdiri kokoh dan dapat disaksikan hingga kini, termasuk Kampus ITB Ganesha, Stasiun Poncol di Semarang, Stasiun Tegal, serta Gereja Puhsarang di Kabupaten Kediri. Mengutip catatan sejarah arsitektur, dedikasinya tidak hanya berhenti pada bangunan modern, tetapi juga merambah dunia arkeologi.
Pada dasawarsa ketiga abad ke-20, MacLaine Pont menunjukkan ketertarikan besar terhadap arsitektur percandian di Jawa dan aktif memimpin ekskavasi di Trowulan sejak tahun 1921. Kerja kerasnya berbuah manis lewat pendirian Museum dan Pusat Penelitian Arkeologi Trowulan pada tahun 1925 guna mengungkap tata kota ibu kota Majapahit.
Masa tua sang arsitek diwarnai berbagai ujian berat ketika ia sempat mendekam di kamp interniran Jepang di Bandung dan Cimahi sebelum dievakuasi ke Australia pada 1945. Selepas kemerdekaan, ia sempat berniat kembali mengabdi sebagai guru besar di ITB, namun kepulangan tersebut membawanya kembali ke Belanda hingga akhir hayatnya di Den Haag pada 2 Desember 1971.