Tokyo Tower atau secara resmi bernama Japan Radio Tower merupakan menara komunikasi dan observasi yang berdiri megah di distrik Shiba-koen, Minato, Tokyo. Menara setinggi 332,9 meter ini merupakan struktur tertinggi di Jepang sebelum kehadiran Tokyo Skytree pada 2012. Desainnya yang terinspirasi dari Menara Eiffel di Paris, membuatnya dijuluki sebagai Menara Eiffel-nya Jepang dengan warna putih dan oranye internasional untuk memenuhi regulasi keselamatan penerbangan.
Pembangunan Tokyo Tower dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan satu menara transmisi yang kuat untuk menjangkau seluruh wilayah Kanto. Pada 1953, NHK sebagai stasiun penyiaran publik memulai siaran televisi dan diikuti oleh stasiun swasta lainnya. Hal ini mendorong pemerintah Jepang untuk membangun satu menara raksasa guna mencegah pembangunan menara transmisi yang tersebar di seluruh Tokyo. Selain itu, di tengah masa pemulihan pasca Perang Dunia II, Jepang membutuhkan monumen yang melambangkan kebangkitan nasionalnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeHisakichi Maeda, pendiri dan presiden Nippon Denpato, awalnya bercita-cita membangun menara yang lebih tinggi dari Empire State Building. Namun, keterbatasan dana dan material membuat rencana tersebut harus disesuaikan. Ketinggian menara akhirnya ditentukan berdasarkan jarak yang dibutuhkan untuk transmisi televisi, yaitu sekitar 150 kilometer ke seluruh wilayah Kanto. Desain akhirnya dipercayakan kepada Tachu Naito, yang terinspirasi oleh Menara Eiffel dan mengklaim desainnya mampu bertahan dari gempa bumi dua kali lipat kekuatan gempa Kanto 1923 dan angin topan hingga 220 km/jam.
Proses konstruksi yang melibatkan ratusan pekerja tobi atau konstruksi tradisional Jepang dimulai pada Juni 1957. Menara ini dibangun dari baja, sepertiganya merupakan besi tua dari tank-tank Amerika yang rusak dalam Perang Korea. Antena sepanjang 90 meter dipasang pada 14 Oktober 1958, menjadikan Tokyo Tower sebagai menara tertinggi di dunia, mengalahkan Menara Eiffel. Dibuka untuk umum pada 23 Desember 1958 dengan biaya akhir 2,8 miliar Yen atau sekitar 8,4 juta dolar AS pada masa itu. Meski lebih tinggi, Tokyo Tower memiliki berat 4.000 ton, lebih ringan 3.300 ton dari Menara Eiffel.
Fungsi dan Daya Tarik Wisata Tokyo Tower
Tokyo Tower memiliki dua sumber pendapatan utama, yaitu sewa antena dan pariwisata. Menara ini berfungsi sebagai struktur penopang antena penyiaran radio dan televisi, sekaligus menjadi destinasi wisata dengan berbagai atraksi. Pada 2024, Tokyo Tower mencatatkan kunjungan ke-190 juta, menunjukkan popularitasnya yang terus meningkat setelah sempat mengalami penurunan pada 1990-an.
Area pertama yang dikunjungi wisatawan adalah FootTown, bangunan berlantai lima di dasar menara yang menawarkan berbagai restoran, toko suvenir, dan atraksi menarik. Dari lantai pertama FootTown, pengunjung dapat naik elevator menuju Main Observatory (Dek Utama) di ketinggian 150 meter. Untuk menikmati pemandangan lebih tinggi, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke Top Deck (Dek Atas) di ketinggian 249,6 meter dengan tiket tambahan. Nama-nama dek ini telah diperbarui setelah renovasi top deck pada 2018.
Meski menjadi ikon, Tokyo Tower menghadapi tantangan dengan hadirnya siaran televisi digital. Menara ini dinilai tidak cukup tinggi untuk memancarkan sinyal digital frekuensi tinggi yang dapat terhalang hutan atau gedung pencakar langit. Akibatnya, Tokyo Skytree setinggi 634 meter dibangun dan mulai beroperasi pada 2012, menggantikan fungsi siaran digital. Saat ini, hanya stasiun radio FM yang masih menggunakan antena Tokyo Tower, sementara stasiun televisi telah pindah ke Tokyo Skytree, kecuali Open University of Japan yang bertahan hingga 2018.
Meski kehilangan peran utamanya sebagai pemancar televisi digital, Tokyo Tower tetap menjadi landmark penting. Pihak pengelola bahkan merencanakan perpanjangan antena setinggi 80 hingga 100 meter dengan biaya 4 miliar Yen agar tetap relevan, namun akhirnya fungsi siaran dialihkan ke Tokyo Skytree. Kini, Tokyo Tower lebih berperan sebagai destinasi wisata dan simbol kota Tokyo yang tak tergantikan. Menara ini juga secara rutin dicat ulang, sebuah proses yang memakan waktu sekitar satu tahun, dengan jadwal pengecatan terbaru pada 2026 menggunakan cat yang lebih tahan lama.