Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengakhiri status darurat kesehatan global atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC) untuk pandemi COVID-19 pada Mei 2023. Keputusan ini diambil setelah lebih dari tiga tahun dunia berjuang melawan virus SARS-CoV-2 yang pertama kali terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan pandemi telah memasuki fase transisi menuju endemi. "Meskipun status darurat telah berakhir, COVID-19 tetap menjadi ancaman kesehatan global yang mematikan. Kita tidak boleh lengah," ujarnya dalam konferensi pers saat itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKeputusan WHO ini didasarkan pada tren penurunan kasus kematian dan rawat inap akibat COVID-19 secara global. Namun, lembaga kesehatan dunia itu tetap mengingatkan bahwa virus corona masih terus bermutasi dan berpotensi memunculkan varian-varian baru yang lebih berbahaya di masa depan.
Meskipun status pandemi telah dicabut, para ahli epidemiologi menilai definisi akhir dari sebuah pandemi lebih bersifat fenomena sosial, bukan hanya biologis. Timemagazine pada Maret 2024 melaporkan perbedaan pendapat di kalangan pakar mengenai apakah COVID-19 saat ini masih dianggap pandemi atau sudah sepenuhnya endemi.
WHO Cabut Status Darurat, Endemi Jadi Babak Baru COVID-19
Hingga 5 Agustus 2026, COVID-19 telah menyebabkan 7.115.203 kematian terkonfirmasi dan diperkirakan 18,5 hingga 35,2 juta jiwa meninggal dunia akibat pandemi ini. Jumlah ini menjadikan COVID-19 sebagai pandemi atau epidemi paling mematikan kelima dalam sejarah manusia.
Sejak awal 2020, WHO telah mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi dan memicu berbagai respons global, mulai dari pembatasan perjalanan hingga pengembangan vaksin. Kini, dengan berakhirnya status darurat, dunia memasuki babak baru dalam penanganan virus mematikan ini.
"Kami sangat senang dengan perkembangan ini. Ini menunjukkan bahwa upaya vaksinasi dan pengobatan yang masif selama tiga tahun terakhir membuahkan hasil," jelas Tedros. Namun, ia juga mengingatkan bahwa COVID-19 masih menyebabkan kematian di berbagai belahan dunia.
Para ahli kesehatan sepakat bahwa COVID-19 tidak akan pernah hilang sepenuhnya. Virus ini telah beralih menjadi endemi yang akan terus beredar di masyarakat, mirip seperti flu musiman, namun dengan potensi dampak yang lebih serius bagi kelompok rentan.