Pelatihan kecerdasan buatan atau AI bagi pekerja senior kerap memicu dilema tersendiri di lingkungan perusahaan modern. Sebagaimana dilaporkan dalam studi terbaru, dorongan masif melakukan upskilling demi mengimbangi transisi teknologi sering kali diabaikan dari aspek kesiapan mental tenaga kerja berusia matang.
Berdasarkan analisis studi doktoral mengenai pekerja senior, penambahan materi digital yang kurang tepat waktu atau terlalu rumit justru memperberat beban kerja. Kondisi tersebut memicu fenomena technostress yang menggerus rasa percaya diri karyawan senior dalam menyelesaikan tugas harian mereka.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDari analisis pengamat ketenagakerjaan, pekerja berusia di atas 55 tahun merupakan penyimpan pengetahuan institusional yang sangat penting bagi perusahaan. Kehilangan mereka akibat keputusan pensiun dini karena kelelahan kerja tentu mendatangkan kerugian besar bagi keberlanjutan organisasi.
Agar program peningkatan keahlian tidak menjadi bumerang, perusahaan disarankan untuk menerapkan metode pembelajaran bertahap dan memecah materi rumit menjadi porsi lebih kecil. Pengurangan beban tenggat waktu juga terbukti membantu karyawan menyerap teknologi baru tanpa mengorbankan kesejahteraan mental mereka.
Langkah strategis tersebut memastikan bahwa investasi digital perusahaan benar-benar berfungsi sebagai penopang retensi pegawai. Dengan demikian, adopsi sistem cerdas mampu berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan aset sumber daya manusia paling berpengalaman di perusahaan.