Concert of Europe merujuk pada tatanan geopolitik di Eropa dari tahun 1814 hingga 1914 di mana kekuatan-kekuatan besar bertindak bersama untuk menghindari perang serta revolusi demi mempertahankan status quo teritorial dan politik. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, sistem ini berakar dari koalisi yang terbentuk untuk melawan Prancis era revolusi dan Napoleon, yang kemudian disahkan melalui Kongres Wina pada 1814-1815.
Sistem Kongres atau Sistem Wina didominasi lima kekuatan besar yaitu Austria, Prancis, Prusia, Rusia, dan Britania Raya, yang awalnya merancang pertemuan rutin guna menyelesaikan potensi sengketa. Sebagaimana dilaporkan dalam sejarah diplomasi, para anggota konservatif dari Holy Alliance menggunakan sistem ini untuk menumpas gerakan liberal serta nasionalisme, meskipun aliansi formal tersebut mulai pudar pada dekade 1820-an akibat perbedaan pandangan politik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFase pertama Concert of Europe berlangsung dari 1814 hingga awal 1860-an, sering pula dijuluki sebagai Era Metternich karena pengaruh besar kanselir Austria Klemens von Metternich dalam menegakkan konservatisme. Mengutip laporan sejarah internasional, fase ini akhirnya runtuh akibat kebangkitan nasionalisme yang memicu unifikasi Italia pada 1861 dan unifikasi Jerman pada 1871 sehingga merombak peta perpolitikan benua biru.
Fase kedua dimulai pasca unifikasi Jerman ketika Kanselir Otto von Bismarck berupaya menghidupkan kembali sistem tersebut guna melindungi posisi dominan Jerman di kancah internasional. Dari analisis Kabayan News, fase kedua ini berhasil menciptakan stabilitas relatif dari era 1870-an hingga 1914 serta memfasilitasi ekspansi kolonial bangsa Eropa di Afrika dan Asia tanpa melibatkan perang terbuka antarkekuatan besar.
Akhir dari Concert of Europe ditandai secara mutlak oleh pecahnya Perang Dunia I pada tahun 1914 ketika sistem diplomasi gagal meredam runtuhnya kekuasaan Ottoman di Balkan serta mengerasnya blok aliansi militer menjadi Triple Alliance dan Triple Entente. Meskipun runtuh, pendekatan berbasis multilateralisme dari sistem tersebut kemudian menjadi fondasi penting bagi pembentukan Liga Bangsa-Bangsa, Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan forum internasional modern lainnya.