Interim Leadership Council memegang peran krusial sebagai dewan transisi yang menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi Iran ketika posisi tersebut kosong berdasarkan ketentuan Konstitusi Republik Islam Iran. Berdasarkan analisis tim redaksi dari catatan sejarah ketatanegaraan, dewan ini dibentuk guna memastikan roda pemerintahan tidak mengalami kekuasaan absolut yang kosong saat terjadi transisi kepemimpinan mendadak akibat wafat, pengunduran diri, ataupun pencopotan pejabat tinggi.
Berdasarkan Pasal 111 Konstitusi Iran, susunan dewan transisi ini terdiri dari Presiden Iran, Ketua Mahkamah Agung Iran, serta seorang anggota Dewan Ahli Hukum Islam atau Guardian Council yang dipilih oleh Expediency Discernment Council. Komposisi ini dirancang untuk merepresentasikan keseimbangan institusional eksekutif dan yudikatif dalam mengelola stabilitas negara pada masa krisis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDewan transisi pertama dalam sejarah modern Iran resmi memegang kendali penuh atas pucuk pimpinan negara mulai 1 hingga 8 Maret 2026 menyusul peristiwa pembunuhan Ali Khamenei. Dewan tersebut diisi oleh Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Mahkamah Agung Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i, serta Ayatollah Alireza Arafi sebagai anggota perwakilan ulama.
Sebelum krisis kepemimpinan tahun 2026, mekanisme serupa pernah menjadi perdebatan sengit di internal Majelis Ahli pasca wafatnya Ruhollah Khomeini pada masa lampau. Sebagian besar anggota majelis saat itu lebih memilih menunjuk individu tunggal daripada membentuk dewan kepemimpinan kolektif, yang kemudian mengantarkan Ali Khamenei menduduki posisi pemimpin tertinggi.
Pakar geopolitik dari Brookings Institution, Suzanne Maloney, menilai bahwa proses penunjukan pengganti pemimpin tertinggi saat krisis berjalan secara improvisasi serta sangat bergantung pada situasi dinamika lapangan. Tantangan domestik yang dihadapi rezim termasuk tingkat dukungan militer serta ketegangan sosial turut memperumit transisi politik di kawasan tersebut.
Masa tugas singkat Interim Leadership Council akhirnya berakhir pada 8 Maret 2026 setelah Majelis Ahli mengumumkan pemilihan Mojtaba Khamenei sebagai penerus resmi jabatan Pemimpin Tertinggi Iran. Pengumuman tersebut sekaligus meredakan spekulasi panjang mengenai mekanisme suksesi di tengah situasi keamanan regional yang bergejolak.