Sebagaimana diwartakan oleh media Marianne, mantan Perdana Menteri Prancis Manuel Valls kembali menyuarakan pandangan tajamnya mengenai pentingnya mempertahankan prinsip sekularisme atau laïcité di tengah berbagai tantangan sosial yang kian kompleks. Dalam pidatonya yang disampaikan pada ajang universitas musim panas Laboratoire de la République di Sens, Valls menyoroti bahwa prinsip dasar kenegaraan tersebut harus terus dijaga tanpa kompromi.
Berdasarkan laporan tersebut, Valls menegaskan bahwa laïcité tidak memerlukan embel-embel atau adjektif penjelas karena esensinya sudah terangkum jelas dalam tiga pilar utama perlindungan hukum. Ia merinci bahwa prinsip kebebasan hati nurani, pemisahan agama dari negara, dan kesetaraan mutlak di depan hukum merupakan fondasi moral yang memungkinkan masyarakat dengan latar belakang berbeda dapat hidup berdampingan secara damai.
Dalam pemaparannya yang tajam, Valls juga menyoroti tekanan sosial yang kerap menyasar kaum perempuan melalui simbol-simbol keagamaan di ruang publik. Mengutip pernyataan sang politisi, "Burini tidak pernah sekadar pakaian renang, melainkan sebuah bendera dan klaim politik, sama seperti kerudung yang dipaksakan kepada anak perempuan muda, dan kita tidak boleh meninggalkan anak-anak perempuan ini".
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai tiga ancaman utama yang merongrong pilar republik, mulai dari ofensif kelompok Islam radikal, sikap menyerah dari sebagian kalangan politik domestik, hingga upaya politisasi identitas oleh kelompok ekstrem kanan. Menurutnya, melemahkan prinsip sekularisme hanya akan mengarah pada model masyarakat komunal yang mengorbankan perlindungan bagi individu yang rentan.
Sebagai langkah nyata dalam menghadapi situasi yang terus berkembang, Valls menilai bahwa pemerintah harus berani mengambil sikap tegas secara hukum terhadap fenomena pemaksaan atribut keagamaan pada anak-anak di ruang publik. Ia menutup seruannya dengan menekankan bahwa sekularisme bukanlah sebuah bentuk permusuhan terhadap agama, melainkan pelindung utama kebebasan warga negara.