Fenomena penurunan angka kelahiran atau natalitas yang kian merosot di berbagai belahan dunia ternyata tidak dibarengi dengan surutnya keinginan kaum perempuan untuk merasakan pengalaman menjadi seorang ibu. Banyak perempuan modern dihadapkan pada persimpangan jalan antara dorongan nurani untuk mengasuh anak dan realitas pahit kondisi sosial-ekonomi yang serba tidak pasti.
Berdasarkan laporan media internasional, dilema ini dirasakan oleh banyak perempuan berusia 30-an tahun yang mendambakan kehadiran buah hati namun terhalang oleh faktor kestabilan finansial, kesulitan mencari pasangan yang sevisi, hingga mahalnya biaya perawatan medis reproduksi mandiri.
Menurut penjelasan psikolog dan sexolog klinis Nadia Ciuffo Valdez, keinginan kuat saja seringkali tidak mencukupi tanpa adanya sokongan kondisi material dan emosional yang memadai bagi seorang ibu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana diwartakan oleh berbagai sumber riset demografi, lonjakan biaya hidup, krisis perumahan, hingga ketimpangan beban tugas pengasuhan yang mayoritas masih dibebankan kepada perempuan menjadi faktor dominan tertundanya rencana kehamilan.
Kendati demikian, para ahli mengingatkan bahwa pergeseran tren keluarga ini menuntut adanya perhatian serius dari negara agar fasilitas penunjang seperti layanan kesehatan reproduksi dan kesetaraan hak cuti dapat meringankan beban para perempuan di tengah tantangan zaman.