Profil Agus Salim atau yang lahir dengan nama Masjhoedoelhaq Salim mencatat perjalanan hidup seorang pejuang kemerdekaan Indonesia sekaligus Bapak Pandu bangsa. Lahir di Bukittinggi pada 8 Oktober 1884, ia dikenal sebagai intelektual serbabisa yang menguasai berbagai bahasa asing Eropa, Timur Tengah, hingga Jepang.
Pendidikan dasar dan menengahnya diselesaikan dengan gemilang, termasuk saat menjadi alumnus terbaik HBS Koning Willem III di Batavia. Setelah merampungkan studinya, Salim sempat bekerja sebagai penerjemah sebelum merantau ke Jeddah untuk bekerja di kantor kedutaan besar Belanda.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain aktif di bidang diplomatik dan pemerintahan, Salim juga meniti karier cemerlang sebagai jurnalis andal serta pemimpin redaksi di berbagai surat kabar terkemuka. Kiprah politiknya semakin bersinar ketika ia bergabung dengan Sarekat Islam dan menjadi tokoh sentral di bawah kepemimpinan Oemar Said Tjokroaminoto.
Peran besar Salim di kancah internasional membawanya dipercaya menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia pada masa revolusi. Atas jasa dan dedikasi luar biasa bagi negara, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 27 Desember 1961.
Karier Politik dan Akhir Hayat Agus Salim
Selama periode tahun 1946 hingga 1950, peran Salim dalam pergolakan politik nasional sangat menonjol hingga dijuluki sebagai Grand Old Man atau Orang Tua Besar. Kecerdasan berdiplomasi menjadikannya figur penting dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di mata dunia internasional.
Setelah purna tugas dari dunia politik aktif, Salim tetap mendedikasikan dirinya dalam dunia literasi dan pers dengan memimpin Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia. Ia juga aktif menulis karya tulis penting, termasuk buku berjudul Keterangan Filsafat Tentang Tauchid, Takdir dan Tawakal.
Haji Agus Salim tutup usia pada tanggal 4 November 1954 di Jakarta dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan dengan penghormatan negara di Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk mengenang seluruh pengabdiannya.
Pemerintah Indonesia mengabadikan nama Agus Salim pada berbagai fasilitas publik, termasuk stadion sepak bola di Padang. Pengabadian tersebut menjadi bentuk penghormatan abadi bagi seorang pejuang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk kemerdekaan.