Profil Kesultanan Tidore mencatat sejarah panjang sebuah kerajaan Islam berpusat di wilayah Kota Tidore, Maluku Utara, Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, kerajaan ini menguasai sebagian besar Pulau Halmahera selatan, Pulau Buru, Pulau Seram, serta banyak pulau pesisir Papua barat pada masa kejayaan sekitar abad ke-16 hingga abad ke-18.
Berdasarkan silsilah raja-raja, penguasa pertama Kesultanan Tidore adalah Muhammad Naqil naik tahta pada tahun 1081. Agama Islam resmi menjadi identitas kerajaan setelah Raja Tidore ke-11, Sultan Djamaluddin, memeluk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerjalanan politik Kesultanan Tidore diwarnai persekutuan strategis melawan kekuatan kolonial asing. Pada tahun 1521, Sultan Mansur menerima Spanyol sebagai sekutu guna mengimbangi Kesultanan Ternate bersekutu dengan Portugal.
Pengamatan tim redaksi menunjukkan puncak kejayaan Kesultanan Tidore terjadi pada masa pemerintahan Sultan Nuku periode 1780 hingga 1805. Sultan Nuku berhasil menyatukan Ternate dan Tidore guna mengusir Belanda serta Inggris dari bumi Maluku.
Aspek kehidupan masyarakat Tidore sangat lekat dengan hukum Islam dalam keseharian. Bukti autentik terlihat ketika Sultan Nuku melakukan perdamaian bersama De Mesquita dari Portugal melalui sumpah di bawah kitab suci Al-Qur'an.
Faktor kemunduran Kesultanan Tidore bermula dari taktik adu domba dijalankan bangsa asing demi memonopoli rempah-rempah. Meskipun sempat bersatu mengusir Portugis dan Spanyol, VOC Belanda akhirnya menaklukkan wilayah tersebut melalui struktur organisasi perdagangan teratur.