Profil Kota Palangka Raya mencatat perjalanan panjang wilayah yang kini berstatus sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah. Berdasarkan data akhir tahun 2025, kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 321.831 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata mencapai 110 jiwa per kilometer persegi.
Secara historis, kota ini dibangun pada tahun 1957 melalui Undang-Undang Darurat Nomor 10 Tahun 1957 dari kawasan hutan belantara yang dibuka di sekitar Desa Pahandut di tepi Sungai Kahayan. Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno bahkan sempat merencanakan kawasan ini sebagai calon ibu kota negara di masa depan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerkembangan wilayah administrasi Palangka Raya terus berlanjut hingga kini terbagi menjadi lima kecamatan, yaitu Pahandut, Jekan Raya, Bukit Batu, Sabangau, dan Rakumpit. Pusat kegiatan kota ini terkonsentrasi di kawasan Jekan Raya dan Pahandut yang menopang sebagian besar aktivitas masyarakat.
Sebagai wilayah dengan status otonom yang diresmikan pada tahun 1965, Palangka Raya memegang rekor sebagai kota dengan wilayah terluas di Indonesia. Luas daratannya bahkan tercatat setara dengan beberapa kali lipat wilayah ibu kota Jakarta.
Sejarah Pembangunan dan Gagasan Bung Karno
Pembangunan fisik Kota Palangka Raya ditandai secara simbolis melalui peletakan tiang pertama oleh Presiden Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957. Peristiwa bersejarah tersebut diabadikan lewat peresmian Tugu Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah di kawasan Pahandut.
Proses pembentukan pemerintahan otonom di wilayah ini melibatkan tokoh-tokoh penting pejuang daerah, termasuk penunjukan Tjilik Riwut sebagai Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah kala itu. Perpindahan pusat pemerintahan dari Banjarmasin ke Palangka Raya resmi dilakukan pada penghujung tahun 1959.
Wacana besar mengenai pemindahan pusat pemerintahan ke Palangka Raya bukan tanpa alasan mendalam. Letak geografisnya yang berada di tengah kepulauan Nusantara serta luas wilayah yang memadai membuat Bung Karno menaruh perhatian khusus terhadap pengembangan kota ini.
Kondisi topografi wilayah Palangka Raya didominasi oleh dataran rendah hingga landai dengan ketinggian rata-rata di bawah 100 meter di atas permukaan laut. Letak geografis ini dikelilingi oleh lanskap alam khas Kalimantan yang asri serta jaringan sungai besar.