Lambertus Nicodemus Palar atau yang lebih akrab disapa Babe Palar merupakan sosok diplomat ulung kelahiran Tondano, Sulawesi Utara, pada 5 Juni 1900. Kiprahnya di kancah internasional mencatatkan sejarah penting bagi Indonesia sebagai perwakilan pertama di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Perjalanan hidup Palar dihiasi dengan dedikasi tinggi terhadap dunia pendidikan dan pergerakan nasional sejak usia muda. Ia mengenyam pendidikan di MULO Tondano sebelum melanjutkan ke AMS B di Yogyakarta dan sempat berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSemasa kuliah di Bandung, Palar aktif berdiskusi dengan tokoh bangsa seperti Soekarno. Ia kemudian melanjutkan studi hukum di Rechtshoogeschool te Batavia sebelum akhirnya hijrah ke Belanda pada tahun 1928 untuk menghindari tekanan politik kolonial.
Di negeri Belanda, keterlibatan Palar dalam gerakan sosial-demokrat semakin mengasah pemikirannya mengenai kemerdekaan. Ia bergabung dengan SDAP dan memimpin berbagai komisi kolonial yang menyuarakan hak penentuan nasib sendiri bagi bangsa Indonesia tanpa syarat.
Jejak Karier Diplomatik dan Akhir Hayat Sang Pejuang
Menjelang masa kemerdekaan hingga era pascaperang, Palar menunjukkan keberpihakan penuh pada proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Sikap tegas ini bahkan membuatnya memilih mundur dari parlemen Belanda setelah pemerintah kolonial melancarkan aksi militer.
Pengabdian luar biasa tersebut mengantarkan Palar sebagai wakil Indonesia di PBB dari tahun 1947 hingga 1953. Atas jasa-jasanya memperjuangkan kedaulatan negara, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada November 2013.
Karier diplomatik Lambertus Nicodemus Palar terus berlanjut ke berbagai negara strategis setelah sukses mengawal pengakuan kedaulatan Indonesia di PBB. Ia pernah mengemban amanah sebagai Duta Besar Indonesia untuk India, Uni Soviet, Kanada, hingga Amerika Serikat.
Selain aktif di dunia diplomasi bilateral dan multilateral, Palar juga turut serta mempersiapkan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung. Perannya sangat krusial dalam mempererat solidaritas antarnegara berkembang yang baru merdeka.