Gulden Hindia Belanda atau Nederlands Indische gulden merupakan mata uang resmi yang digunakan di Indonesia pada era kolonial Belanda. Pada tahun 1858, pemerintah kolonial mulai mengeluarkan uang logam dengan desain baru setelah mengakhiri sistem tanam paksa dan beralih memasuki kebijakan politik pintu terbuka di wilayah Nusantara.
Dalam perkembangannya, satuan mata uang ini juga diterjemahkan sebagai rupiah dalam beberapa cetakan uang kertas maupun logam yang beredar di masyarakat lokal. Mata uang tersebut disimbolkan dengan tanda florin serta memiliki berbagai pecahan nilai mulai dari sen hingga lembaran kertas bernilai besar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelum penggunaan gulden meluas, Nusantara telah mengenal berbagai sistem moneter tersendiri seperti dolar Sumatra dan rupiah Jawa sebelum akhirnya mengalami penyeragaman. Pengendalian mata uang secara lebih ketat mulai diterapkan pemerintah kolonial pada paruh kedua abad kesembilan belas demi menjaga stabilitas ekonomi.
Memasuki masa pendudukan Jepang hingga era kemerdekaan Indonesia, peredaran gulden mengalami berbagai transformasi politik dan moneter. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menerbitkan Oeang Repoeblik Indonesia yang secara permanen menggantikan kedudukan gulden di tanah air.
Sejarah Satuan dan Akhir Penggunaan Gulden
Sistem satuan mata uang gulden mengalami beberapa kali penyesuaian nilai tukar terhadap stuiver dan duiten akibat faktor inflasi pada masa pemerintahan kolonial terdahulu. Setelah tahun 1912, pemerintah menetapkan standar baru peredaran uang kertas dan logam termasuk penggunaan koin khusus untuk wilayah jajahan.
Beberapa desain uang kertas sempat menarik perhatian publik termasuk cetakan bergambar Ratu Wilhelmina dengan rambut tergerai yang akhirnya ditarik dari peredaran. Kebijakan moneter tersebut terus berganti hingga masa pendudukan militer asing yang mencetak uang khusus berinskripsi bahasa Jepang.
Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, upaya mempertahankan mata uang kolonial sempat dilakukan melalui penerbitan uang baru oleh Javasche Bank. Namun langkah tersebut tidak bertahan lama seiring dengan konsolidasi kedaulatan ekonomi nasional di bawah pemerintahan Republik Indonesia.
Wilayah terakhir yang menggunakan mata uang berbasis gulden yakni Papua Belanda juga mengalami penyesuaian sistem keuangan setelah bergabung secara penuh dengan wilayah Republik Indonesia. Seluruh mata uang kolonial tersebut akhirnya lenyap dan digantikan sepenuhnya oleh rupiah.