Toko Merah berdiri sebagai salah satu bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda paling ikonik di kawasan Kota Tua Jakarta. Didirikan pada tahun 1730, bangunan ini memiliki nilai arsitektur tinggi dan menjadi saksi bisu perkembangan kota selama berabad-abad di sisi barat kanal utama Kali Besar.
Nama unik Toko Merah sendiri diambil dari warna dinding depan bangunan yang dominan merah hati. Tampilan tersebut berasal dari permukaan batu bata yang tidak diplester, memberikan kesan estetika tersendiri yang berbeda dengan gaya bangunan kolonial lainnya pada masa itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejarah panjang bangunan ini bermula ketika Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun rumah tersebut di atas tanah seluas 2.471 meter persegi. Ia menempati kediaman megah tersebut sebelum akhirnya ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, menjadikan lokasi ini sebagai kawasan hunian kalangan elit dan sosialita di zamannya.
Selain van Imhoff, tercatat beberapa Gubernur-Jenderal lain pernah mendiami rumah ini, seperti Jacob Mossel, Petrus Albertus van der Parra, dan Reinier de Klerk. Kompleks bangunan ini telah mengalami berbagai transformasi fungsi selama ratusan tahun, mulai dari akademi angkatan laut hingga kantor perusahaan dagang.
Transformasi Toko Merah Melintasi Berbagai Zaman
Kini, setelah melewati proses restorasi panjang pada tahun 2012, Toko Merah resmi difungsikan sebagai "function hall". Ruangan bersejarah ini sekarang sering dimanfaatkan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai acara seperti konferensi eksklusif hingga pameran seni berskala besar.
Pemerintah pun telah mengakui pentingnya bangunan ini dengan menetapkannya sebagai Bangunan Cagar Budaya. Status tersebut diatur melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 serta Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993, guna memastikan pelestarian nilai sejarahnya bagi generasi mendatang.
Perjalanan waktu membawa Toko Merah melalui berbagai fase perubahan kepemilikan dan fungsi yang signifikan. Antara tahun 1743 hingga 1755, bangunan ini sempat difungsikan sebagai kampus dan asrama bagi Académie de Marine atau akademi angkatan laut.
Memasuki era abad ke-19, gedung ini juga pernah dialihfungsikan menjadi Heerenlogement, yaitu hotel bagi para pejabat tinggi. Tidak berhenti di situ, pada kurun waktu 1813 hingga 1851, properti ini berpindah tangan beberapa kali hingga akhirnya dimiliki oleh seorang warga Tionghoa bernama Oey Liauw Kong.