Bioskop Menteng atau Bioscoop Menteng sempat menjadi salah satu pusat hiburan paling prestisius di Jakarta. Bangunan ini berdiri pertama kali pada tahun 1949 dengan sentuhan arsitektur khas rancangan arsitek asal Belanda, J.M. Groenewegen, yang cukup aktif berkarya di Indonesia pada era tersebut.
Proyek ini menjadi tonggak sejarah karena merupakan bioskop pertama yang dirancang oleh Groenewegen. Desain bangunannya mendapatkan pengaruh kuat dari karya arsitek ternama Willem Dudok, khususnya gaya Balai Kota Hilversum, namun telah disesuaikan sedemikian rupa agar selaras dengan iklim tropis Jakarta.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeGedung bioskop ini memiliki kapasitas hingga 1.088 kursi bagi para penonton. Salah satu kecanggihan yang ditawarkan pada masanya adalah kehadiran enam alat pengisap dan pembuang udara sebagai sistem awal pengaturan suhu guna menjaga kenyamanan kualitas udara di dalam ruangan.
Selain fasilitas ruang putar film, gedung ini menyajikan berbagai kemewahan seperti aula luas yang dihiasi mural Bali. Pengunjung juga dimanjakan dengan adanya bar, restoran kafe dengan teras, hingga pembagian kelas tempat duduk dengan variasi harga tiket yang berbeda bagi para penikmat film.
Jejak Langkah Arsitek J.M. Groenewegen di Indonesia
Setelah kesuksesan proyek tersebut, Groenewegen terus dipercaya mengerjakan berbagai desain bioskop lain di Indonesia. Beberapa di antaranya yang berhasil diwujudkan adalah Olympia Bioscoop di Medan pada 1952 dan Sovya Bioscoop di Bukittinggi pada 1957, yang memiliki kemiripan desain dengan Bioskop Menteng.
Namun, seiring berjalannya waktu, wajah kawasan Menteng mengalami perubahan besar. Bioskop Menteng akhirnya dibongkar pada tahun 1988 dan kini lokasi berdirinya bangunan bersejarah tersebut telah beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan Menteng Plaza.
J.M. Groenewegen sendiri merupakan arsitek yang memiliki kisah perjalanan karier cukup panjang di Indonesia. Ia awalnya memutuskan pindah ke Hindia Belanda untuk menghindari Depresi Besar yang melanda Eropa pada masa itu.
Sebelum merancang Bioskop Menteng di Jakarta, Groenewegen sudah lama berkecimpung dalam dunia arsitektur di Medan, Sumatera. Ia sangat aktif di kota tersebut dalam kurun waktu antara 1927 hingga meletusnya Perang Dunia II.