World Values Survey (WVS) merupakan proyek penelitian global yang berfokus pada eksplorasi nilai serta keyakinan masyarakat, pola perubahannya seiring berjalannya waktu, serta pengaruh sosial dan politik yang ditimbulkannya. Sejak pertama kali dimulai pada tahun 1981, jaringan ilmuwan sosial di seluruh dunia secara berkala telah menyelenggarakan survei nasional yang representatif di hampir seratus negara. Berbagai aspek penting seperti dukungan terhadap demokrasi, toleransi, agama, peran gender, hingga kesejahteraan subjektif menjadi pusat perhatian utama dari proyek riset ini.
Latar belakang pembentukan survei ini berakar dari Studi Nilai Eropa atau European Values Study (EVS) yang dipelopori oleh Jan Kerkhofs dan Ruud de Moor di Belanda pada tahun 1981. Minat yang sangat besar terhadap proyek tersebut mendorong para ilmuwan seperti Ronald Inglehart dari Universitas Michigan untuk memperluas jangkauannya ke berbagai belahan dunia di luar masyarakat maju. Pengumpulan data dilakukan secara berkala melalui gelombang survei setiap lima hingga sepuluh tahun untuk memetakan dinamika perubahan sosial secara komprehensif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePencapaian penting dalam perjalanan WVS ditandai dengan keberhasilannya memproduksi ribuan publikasi ilmiah serta menyediakan basis data terbuka yang dapat diakses secara gratis oleh para periset global. Analisis data jangka panjang dari survei ini telah membuktikan bahwa keyakinan dan budaya masyarakat memegang peranan krusial dalam pembangunan ekonomi serta kemunculan institusi demokratis yang stabil. Selain itu, temuan riset WVS juga dimanfaatkan oleh berbagai lembaga internasional, termasuk Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), untuk mengukur indeks norma sosial terkait kesetaraan gender.
Kondisi terkini menempatkan WVS sebagai salah satu jaringan survei sosial paling otoritatif dan berpengaruh di dunia dalam studi sosiologi lintas budaya. Dengan struktur desentralisasi yang melibatkan ratusan ilmuwan dari lebih dari seratus negara, proyek ini terus memantau transformasi nilai di tengah arus globalisasi modern. Ketersediaan data yang konsisten menjadikan WVS sebagai rujukan utama bagi akademisi, pembuat kebijakan, dan pengamat internasional dalam memahami kompleksitas peradaban manusia masa kini.
Latar Belakang dan Awal Mula
Ide awal pendirian World Values Survey bermula dari pengembangan Studi Nilai Eropa yang dirancang untuk menguji hipotesis bahwa perubahan ekonomi dan teknologi sedang mentransformasikan nilai dasar masyarakat industri. Studi perdana pada tahun 1981 tersebut awalnya terbatas pada masyarakat di negara-negara maju dan dikoordinasikan dari Universitas Tilburg di Belanda. Namun, tingginya antusiasme komunitas ilmiah internasional mendorong perluasan cakupan wilayah survei hingga mencakup lebih dari dua puluh negara di berbagai benua berkat kepeloporan Ronald Inglehart.
Proses pembentukan metodologi riset WVS didasarkan pada pendekatan survei sampel yang sistematis dan terstandarisasi untuk mengumpulkan informasi dari responden representatif berusia 18 tahun ke atas. Setiap gelombang survei melibatkan perumusan kuesioner utama berbahasa Inggris yang disusun berdasarkan masukan para ilmuwan sosial dari seluruh penjuru dunia. Kuesioner tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa nasional masing-masing negara peserta dan melalui uji coba ketat guna memastikan keakuratan data yang dikumpulkan.
Momen penting dalam perkembangan WVS adalah transisi menuju struktur organisasi yang terdesentralisasi guna mengatasi sifat awal proyek yang cenderung berpusat pada budaya Eropa. Melalui skema ini, kelompok peneliti dari berbagai negara ikut serta secara aktif dalam perancangan, pelaksanaan, dan analisis data, serta langsung memperoleh akses silang ke seluruh basis data global. Perluasan ini berhasil mencakup representasi yang lebih baik dari wilayah Afrika, Amerika Latin, serta kawasan Asia Tenggara dan Timur.