Profil Yap Tjwan Bing sebagai politikus keturunan Tionghoa yang mendedikasikan diri bagi kemerdekaan Republik Indonesia mencatatkan sejarah penting dalam pembentukan negara. Lahir di Surakarta pada 31 Oktober 1910, ia tumbuh dengan jiwa nasionalisme tinggi yang membawanya masuk ke dalam lingkaran strategis perjuangan bangsa.
Perjalanan karier politiknya mencapai puncaknya ketika ia diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945. Ia merupakan satu-satunya figur keturunan Tionghoa dalam lembaga tersebut dan turut hadir dalam Sidang 18 Agustus 1945 untuk merumuskan Undang-Undang Dasar 1945.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelepas masa PPKI, ia bergabung dengan Komite Nasional Indonesia Pusat guna melanjutkan pengabdiannya di tengah situasi darurat awal kemerdekaan. Ia sempat mendirikan wadah persatuan bagi etnis Tionghoa sebelum akhirnya memutuskan melebur ke dalam Partai Nasional Indonesia.
Komitmen kebangsaannya semakin terlihat tatkala ia menolak tawaran posisi sebagai Menteri Luar Negeri dalam pemerintahan Negara Pasundan yang disponsori oleh Belanda. Ia secara tegas memilih untuk tetap berada di pihak Republik Indonesia demi menjaga keutuhan bangsa.
Jejak Akhir Hayat dan Penghormatan bagi Yap Tjwan Bing
Peran legislatifnya berlanjut hingga masa Dewan Perwakilan Rakyat Sementara sebelum akhirnya ia mundur pada 1954. Kontribusinya tidak hanya berhenti di bidang politik, melainkan meluas ke dunia pendidikan dan kesehatan melalui keterlibatannya mendirikan Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada.
Cobaan berat menghampiri keluarganya saat Peristiwa 13 Mei 1963 meletus di Bandung hingga mengharuskan mereka kehilangan harta benda. Faktor keselamatan keluarga serta kebutuhan medis putranya mendorong ia bersama keluarganya pindah menetap ke Los Angeles, Amerika Serikat.
Meskipun berada di luar negeri, kecintaannya terhadap tanah air tidak pernah luntur sepanjang sisa hidupnya. Ia sempat merilis otobiografi berjudul Meretas Jalan Kemerdekaan pada tahun 1988 yang berisi pesan persatuan bagi generasi muda.
Ia menghembuskan napas terakhir di Los Angeles pada 26 Januari 1988 setelah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi perjuangan kemerdekaan. Namanya kini diabadikan sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap bangsa.