Profil A.A. Hamidhan mengisahkan perjuangan seorang tokoh pers asal Kalimantan Selatan yang konsisten melawan penjajahan melalui dunia jurnalistik sejak era kolonial hingga kemerdekaan. Lahir di Rantau, Tapin, pada 25 Februari 1909, ia menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School di Samarinda dan melanjutkan ke Batavia berkat kebijakan politik etis Belanda.
Sejak muda, ia aktif di dunia pers dengan bergabung sebagai anggota redaksi surat kabar Perasaan Kita dan Bintang Timur. Pada tahun 1930, ia mendirikan surat kabar pribumi pertama di Banjarmasin bernama Soeara Kalimantan, yang kemudian memicu lahirnya berbagai media lokal lain di wilayah Borneo.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKonsistensinya dalam menyuarakan kebenaran membuatnya harus berurusan dengan delik pers atau persdelict hingga beberapa kali mendekam di penjara. Meski demikian, ia tidak pernah surut semangat dan terus menulis untuk membakar semangat pergerakan nasional di kalangan masyarakat pribumi.
Pada masa pendudukan Jepang, ia sempat memimpin surat kabar Kalimantan Raya dan Borneo Shimboen di bawah tekanan ketat militer Jepang. Puncaknya, ia ditunjuk sebagai wakil Kalimantan dalam PPKI dan ikut menyaksikan detik-detik pembacaan teks proklamasi kemerdekaan di Jakarta.
Jejak Perjuangan A.A. Hamidhan di Dunia Pers
Bersama adiknya, A.A. Rivai, ia membawa kabar kemerdekaan Indonesia ke Kalimantan pada 24 Agustus 1945 menggunakan pesawat Jepang. Ia wafat pada 21 Agustus 1997 setelah meninggalkan warisan besar bagi dunia jurnalistik dan sejarah perjuangan bangsa.
Kisah hidup dan dedikasinya kemudian diabadikan dalam buku biografi berjudul H.A.A. Hamidhan Pejuang dan Perintis Pers di Kalimantan yang diterbitkan pada tahun 1987. Hingga kini, namanya dikenal luas sebagai salah satu pilar penting sejarah pers di Tanah Air.
Perjalanan karier jurnalistik A.A. Hamidhan diwarnai dengan berbagai tantangan berat akibat tekanan penguasa kolonial Belanda maupun militer Jepang. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin redaksi yang berani mengambil risiko demi menyampaikan informasi aktual kepada masyarakat luas.
Setelah Indonesia merdeka, ia mengubah nama surat kabarnya menjadi Indonesia Merdeka pasca Konferensi Meja Bundar. Namun, pada tahun 1961 ia memutuskan untuk menjual surat kabar tersebut karena merasa kebebasan pers mulai ditekan oleh pemerintah.