Bahasa Korea merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Korea yang mencakup sebagian besar dari 81 juta penuturnya di seluruh dunia. Bahasa ini berfungsi sebagai bahasa resmi dan nasional di kedua negara di Semenanjung Korea, yakni Korea Utara dan Korea Selatan. Di bagian selatan, bahasa ini secara resmi disebut sebagai Hangugeo, sementara di utara dikenal dengan nama Chosŏnŏ. Sejak awal abad ke-21, pengaruh budaya populer Korea yang mendunia telah meningkatkan minat global terhadap pembelajaran bahasa ini.
Secara geografis, penutur bahasa Korea tidak hanya ditemukan di semenanjung utamanya, tetapi juga diakui sebagai bahasa minoritas di wilayah tertentu seperti Tiongkok, bagian Rusia, serta Asia Tengah. Bahasa Korea bersama dengan beberapa kerabatnya yang telah punah membentuk rumpun bahasa Koreanik yang kompak. Leluhur penutur bahasa ini diyakini berasal dari wilayah Manchuria sebelum akhirnya menyebar ke Semenanjung Korea. Kompleksitas struktur sosial masyarakat asalnya turut memengaruhi tata tingkat tutur dan sistem honorifik dalam bahasa ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSistem penulisan modern Korea menggunakan abjad Hangul, sebuah sistem tulisan fonetik yang dikembangkan pada abad ke-15 untuk meningkatkan tingkat melek huruf rakyat. Sebelum penggunaan Hangul meluas, masyarakat terpelajar menggunakan aksara Tionghoa atau yang dikenal sebagai Hanja untuk keperluan administrasi dan sastra formal. Sistem penulisan campuran ini perlahan bergeser seiring dengan tumbuhnya nasionalisme dan reformasi pendidikan. Saat ini, Hangul menjadi media tulis utama yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari di kedua negara Korea.
Perkembangan bahasa Korea modern juga menunjukkan adanya variasi pelafalan dan kosakata antara Korea Utara dan Korea Selatan akibat pemisahan politik. Meskipun demikian, ragam dialek regional di masing-masing negara seringkali menunjukkan variasi yang lebih besar ketimbang perbedaan standar antara utara dan selatan. Secara keseluruhan, bahasa Korea tetap mempertahankan warisan linguistik yang kaya sekaligus beradaptasi dengan dinamika modern melalui globalisasi.
Sejarah Pendirian dan Perkembangan Awal
Akar sejarah bahasa Korea ditelusuri dari bahasa Korea Kuno yang diturunkan dari bahasa Proto-Koreanik di wilayah Manchuria. Para ahli linguistik memperkirakan bahwa penutur awal bahasa ini mulai memperluas wilayah sebarannya ke bagian selatan Semenanjung Korea pada sekitar tahun 300 Sebelum Masehi. Dalam proses penyebarannya, mereka berdampingan dan berinteraksi dengan kebudayaan lokal yang turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan struktur awal bahasa tersebut. Interaksi historis ini membentuk fondasi linguistik bagi rumpun bahasa Koreanik di kawasan Asia Timur.
Pengaruh besar berikutnya datang dari pengenalan aksara dan bahasa Tionghoa ke Korea sejak abad pertama Sebelum Masehi. Aksara Tionghoa atau Hanja menjadi media penulisan formal dalam pemerintahan dan kesarjanaan di Korea selama berabad-abad lamanya. Karena struktur bahasa Korea dan Tionghoa sangat berbeda, para sarjana masa itu mencoba memodifikasi karakter Tionghoa untuk mencatat pelafalan Korea melalui sistem seperti idu dan hyangchal. Kendati demikian, sistem tersebut terlalu rumit sehingga tingkat buta aksara di kalangan rakyat jelata kala itu masih sangat tinggi.
Titik balik utama dalam sejarah penulisan bahasa Korea terjadi pada abad ke-15 ketika Raja Sejong yang Agung secara pribadi merancang sistem abjad Hangul. Diciptakan melalui risalah Hunminjeongeum, sistem tulisan ini bertujuan agar masyarakat umum dapat belajar membaca dan menulis dengan lebih mudah. Meskipun sempat mendapat tentangan dari kalangan bangsawan yang terbiasa menggunakan Hanja, Hangul dengan cepat menyebar luas di kalangan rakyat jelata. Penggunaan aksara ini terbukti efektif dalam menerbitkan berbagai karya sastra populer dan pengumuman kerajaan untuk semua kalangan.