Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Sejarah Estado Novo Negara...
BERITA

Sejarah Estado Novo Negara Korporatis Portugal di Bawah António de Oliveira Salazar

By Redaksi Kabayan News • 3 min read • 13 Agustus 2026
Arsip historis yang merepresentasikan era Estado Novo di Portugal pada abad ke-20

Arsip historis yang merepresentasikan era Estado Novo di Portugal pada abad ke-20

Sejarah Estado Novo Rezim Otoriter Portugal

Estado Novo merupakan negara korporatis Portugal yang resmi didirikan pada tahun 1933 di bawah kepemimpinan António de Oliveira Salazar. Rezim ini berakar dari Ditadura Nacional atau Dictadura Nacional yang terbentuk menyusul kudeta militer pada tanggal 28 Mei 1926 terhadap Republik Pertama Portugal yang tidak stabil. Bersama-sama, Ditadura Nacional dan Estado Novo diakui oleh para sejarawan sebagai Republik Kedua Portugal yang berlangsung selama beberapa dekade. Dengan mengusung ideologi konservatif dan otokratis, rezim ini berfokus pada pemeliharaan ketertiban sosial serta stabilitas politik nasional.

Dalam perjalanannya, pemerintahan ini secara tegas menentang komunisme, sosialisme, sindikalisme, anarchisme, liberalisme, serta anti-kolonialisme. Kebijakan dalam negeri maupun luar negeri dirancang untuk mempertahankan Portugal sebagai bangsa plurikontinental melalui doktrin lusotropicalism. Wilayah-wilayah seperti Angola, Mozambik, dan teritorinya yang lain dipandang sebagai bagian integral dari Portugal itu sendiri. Pemerintah berupaya melanggengkan kekaisaran luas tersebut di tengah gelombang dekolonisasi global yang melanda berbagai kekuatan kolonial lainnya di seluruh dunia.

Dari segi ekonomi, Portugal di bawah Estado Novo menjalin integrasi yang erat dengan Blok Barat melalui keikutsertaannya dalam berbagai organisasi internasional. Negara ini bergabung dengan Rencana Marshall pada tahun 1948 dan menjadi anggota pendiri Organisasi Kerjasama Ekonomi Eropa. Langkah liberalisasi ekonomi terus berlanjut di bawah kepemimpinan penerus Salazar, Marcelo Caetano, hingga penandatanganan perjanjian perdagangan bebas dengan Masyarakat Ekonomi Eropa. Pertumbuhan ekonomi yang pesat sempat terjadi antara tahun 1950 hingga 1970, meskipun Portugal masih tertinggal dalam hal pendapatan per kapita dibandingkan negara Eropa Barat lainnya.

Akhir dari rezim panjang ini tiba pada tanggal 25 April 1974 melalui Revolusi Anyelir di Lisbon yang diorganisasi oleh perwira militer sayap kiri dari Gerakan Angkatan Bersenjata. Kudeta militer tersebut berhasil menumbangkan Estado Novo dan membuka jalan bagi transisi menuju Republik Ketiga Portugal yang demokratis. Meskipun telah berakhir, warisan kebijakan ekonomi dan administratif dari era tersebut tetap memberikan pengaruh yang signifikan terhadap arah perkembangan negara Portugal di masa modern.

Estado Novo lahir sebagai respons atas kondisi politik dan finansial yang kacau selama periode Republik Pertama Portugal antara tahun 1910 hingga 1926. Kudeta militer pada 28 Mei 1926 mengakhiri masa parlementer yang dinilai tidak stabil dan mendirikan Diktator Militer yang kemudian bertransisi menjadi Diktator Nasional. António de Oliveira Salazar kemudian mengambil alih posisi sebagai perdana menteri pada tahun 1932 dan merestrukturisasi sistem pemerintahan melalui konstitusi baru pada tahun 1933. Transformasi besar ini disambut baik oleh sebagian besar masyarakat karena berhasil memulihkan ketertiban umum dan stabilitas keuangan.

Dasar filosofis politik rezim ini sangat dipengaruhi oleh doktrin sosial Katolik serta ensiklik kepausan yang menolak perjuangan kelas konfrontatif. Sistem ekonomi korporat yang diterapkan bertujuan untuk menempatkan urusan ekonomi di bawah nilai-nilai sosial yang harmonis dan teratur. Para perancang konstitusi, termasuk para ahli hukum, pengusaha, dan akademisi, menginginkan representasi masyarakat melalui korporasi fungsional alih-alih partai politik yang memecah belah. Hal ini mencerminkan penolakan Salazar terhadap konsep partai massa yang totaliter seperti yang terlihat di negara-negara fasis sezamannya.

Meskipun memiliki kemiripan dengan rezim otoriter lain di Eropa, Salazar secara konsisten menolak konsep negara satu partai yang memobilisasi massa secara total. Ia mendirikan Uni Nasional bukan sebagai organisasi pemegang kekuasaan yang ideologis, melainkan sebagai wadah pasif untuk mengendalikan opini publik dan melestarikan nilai-nilai tradisional. Para pejabat sipil, menteri, dan diplomat tidak pernah diwajibkan untuk bergabung dengan partai tunggal tersebut. Tujuannya adalah menciptakan fasad ketertiban politik yang kokoh tanpa harus mendirikan sebuah negara totaliter yang mengontrol seluruh aspek kehidupan warga negara.

Topics
sejarah politik portugal otoritarianisme eropa
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.