Insurgency in Punjab atau pemberontakan di Punjab merupakan kampanye bersenjata dijalankan oleh kelompok separatis dari gerakan Khalistan sejak pertengahan dasawarsa 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Sebagaimana dilaporkan catatan sejarah, tekanan ekonomi serta sosial digerakkan oleh Revolusi Hijau memicu desakan otonomi bagi komunitas Sikh di wilayah tersebut.
Berdasarkan analisis sejarah, gerakan ini pada mulanya berjalan damai sebelum keterlibatan pihak asing bersama tekanan politik memperkeruh situasi di lapangan. Tuntutan mendirikan negara terpisah bagi umat Sikh semakin menguat usai militer India meluncurkan Operation Blue Star pada tahun 1984 untuk menindak militan bermarkas di Golden Temple, Amritsar.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan terkait, situasi semakin memanas akibat terorisme, tindakan kekerasan aparat, serta kelemahan birokrasi pemerintahan kala itu. Tokoh sentral seperti Jarnail Singh Bhindranwale memimpin pergerakan politik memperjuangkan Resolusi Anandpur Sahib demi mewujudkan kawasan semiotonom bagi masyarakat Sikh di India.
Puncak ketegangan terjadi ketika militer menggerebek kompleks kuil suci pada Juni 1984, menewaskan Bhindranwale, dan memicu kemarahan luas dari komunitas Sikh. Peristiwa kelam tersebut berdampak langsung pada pembunuhan Perdana Menteri India Indira Gandhi oleh pengawalnya sendiri, yang kemudian memicu kerusuhan berdarah massal terhadap warga Sikh pada tahun yang sama.
Konflik berkepanjangan ini merenggut puluhan ribu jiwa pemuda dan melumpuhkan wilayah distrik perbatasan seperti Gurdaspur serta Amritsar. Berdasarkan pengamatan arsip, gelombang pemberontakan akhirnya berhasil diredam menjelang pertengahan tahun 1990-an melalui kombinasi operasi militer terarah, pendekatan rekonsiliasi pemerintah pusat, serta pergeseran konstelasi politik lokal di Punjab.