Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Sejarah Monumen Stasiun Radio PHB...
BERITA

Sejarah Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan

By Redaksi Kabayan News 3 min read 17 Agustus 2026
Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 di Gunungkidul sebagai saksi sejarah eksistensi Republik Indonesia

Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 di Gunungkidul sebagai saksi sejarah eksistensi Republik Indonesia

Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 adalah sebuah monumen bersejarah yang dibangun oleh AURI (sekarang TNI-AU) pada tahun 1982 di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Monumen ini diresmikan pada tahun 1984 untuk mengenang peran penting stasiun radio darurat dalam menyebarkan informasi kepada dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih berdiri tegak. Keberadaan monumen ini menjadi simbol perlawanan bangsa terhadap propaganda kolonial Belanda.

Latar belakang pendirian monumen ini bermula dari situasi kritis setelah Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, di mana Yogyakarta jatuh ke tangan musuh dan para pemimpin bangsa ditangkap. Untuk mematahkan klaim sepihak Belanda bahwa Indonesia telah hancur, para pejuang merencanakan strategi militer sekaligus diplomasi melalui penyiaran informasi. Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi momentum krusial yang kemudian disiarkan secara sembunyi-sembunyi dari wilayah pedesaan Gunungkidul.

Peranan sentral dalam operasi penyiaran tersebut dipegang oleh Boediardjo selaku Kepala Perhubungan Udara AURI yang memimpin pendirian stasiun radio rahasia berkode PC-2. Dengan menggunakan taktik penyamaran yang cerdik, stasiun radio darurat ini berhasil memancarkan berita kemenangan Serangan Umum 1 Maret hingga menembus jaringan internasional ke New Delhi dan markas PBB di New York. Keberhasilan ini mencatatkan sejarah kemenangan diplomasi yang luar biasa bagi kedaulatan bangsa.

Sebagai bentuk penghormatan atas nilai sejarah yang tinggi, situs ini resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional melalui Keputusan Menteri Nomor 267/M/2016. Monumen ini kini berdiri sebagai pengingat abadi akan ketangguhan para pejuang kemerdekaan serta ketulusan para pahlawan dalam menjaga eksistensi dan kehormatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Latar Belakang dan Awal Mula

Ide awal pendirian stasiun radio darurat rahasia ini berawal dari situasi darurat pasca Agresi Militer Belanda II yang melumpuhkan ibu kota Yogyakarta pada akhir tahun 1948. Ketika para pemimpin Republik ditangkap dan situasi keamanan hancur lebur, kebutuhan mendesak akan sarana komunikasi dan informasi menjadi kunci utama untuk mematahkan propaganda musuh. Para perwira Angkatan Udara Republik Indonesia menyadari bahwa perjuangan fisik harus didukung oleh perjuangan diplomasi melalui siaran informasi.

Proses pembentukan stasiun radio ini dipimpin langsung oleh perwira TNI AU Boediardjo, yang menjabat sebagai Kepala Perhubungan Udara AURI. Beliau memilih sebuah rumah petani di Dusun Banaran, Desa Playen, Kabupaten Gunungkidul, sebagai lokasi persembunyian untuk mendirikan stasiun radio darurat berkode PC-2. Pemilihan lokasi terpencil ini didasarkan pada pertimbangan keamanan agar aktivitas penyiaran tidak mudah dideteksi oleh tentara pendudukan Belanda.

Momen penting yang menjadi titik balik perjuangan ini terjadi ketika taktik penyamaran yang ketat diterapkan demi menjaga kerahasiaan operasional stasiun radio. Antena radio disembunyikan di atas pohon kelapa yang tinggi, sementara mesin genset ditaruh di dalam lubang rahasia di bawah tanah yang hanya diaktifkan pada malam hari. Berkat kedisiplinan dan strategi gerilya komunikasi tersebut, stasiun ini mampu beroperasi secara efektif tanpa terendus oleh patroli musuh.

Fondasi nilai yang menjadi pegangan para pejuang dalam mengoperasikan stasiun radio ini adalah semangat pantang menyerah, loyalitas tanpa batas, serta kecintaan mendalam terhadap tanah air. Prinsip kerahasiaan dan keberanian dalam menghadapi risiko mati demi negara menjadi landasan moral yang kuat bagi seluruh personel perhubungan udara AURI dalam menunaikan tugas bersejarah tersebut.

Dampak Sosial dan Pengaruh

Kontribusi utama Monumen Stasiun Radio PHB AURI PC-2 dan jaringan radionya adalah keberhasilan menyampaikan berita kemenangan Serangan Umum 1 Maret 1949 kepada dunia internasional. Siaran darurat yang dikirimkan dari Gunungkidul diteruskan estafet melalui Bukittinggi, Aceh, hingga Burma, dan akhirnya disiarkan oleh All India Radio ke seluruh penjuru dunia. Penyiaran lintas negara ini berhasil memupus kebohongan propaganda kolonial di mata dunia global.

Pengaruh dari keberhasilan penyiaran tersebut berdampak luas terhadap posisi tawar diplomasi Republik Indonesia di kancah internasional, termasuk membuka jalan hingga ke hadapan delegasi Indonesia di PBB di New York. Dunia internasional akhirnya menyadari bahwa pemerintahan dan tentara Indonesia masih berfungsi secara aktif. Hal ini memberikan tekanan politik yang besar kepada pihak Belanda untuk menghentikan agresi militer mereka.

Sebagai bentuk pengakuan resmi atas nilai pentingnya, situs ini telah dianugerahi status sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional pada tanggal 2 November 2016. Penetapan ini memberikan pelindungan hukum sekaligus melestarikan fisik bangunan monumen agar tetap dapat disaksikan dan dipelajari oleh generasi penerus bangsa sebagai monumen perjuangan telekomunikasi.

Warisan semangat dari Stasiun Radio PHB AURI PC-2 memberikan pengaruh yang mendalam bagi generasi mendatang dalam memahami arti penting kemerdekaan dan kedaulatan informasi. Monumen ini terus berdiri kokoh di Gunungkidul sebagai inspirasi abadi bahwa keteguhan tekad dalam menghadapi keterbatasan mampu mengubah arah sejarah suatu bangsa.

Topics
monumen sejarah indonesia cagar budaya yogyakarta tni au
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.