Analisis DNA terbaru pada kerangka dukun Zaman Perunggu di situs Upton Lovell berhasil membalikkan asumsi sejarawan selama dua abad bahwa tokoh tersebut merupakan seorang laki-laki. Riset mutakhir yang dipamerkan di Francis Crick Institute ini membuktikan bahwa sang tokoh bersejarah itu memiliki kromosom seks XX yang identik dengan perempuan.
Direktur Wiltshire Museum David Dawson menyebut temuan ini meruntuhkan anggapan konvensional mengenai dominasi laki-laki dalam struktur masyarakat prasejarah terutama di bidang pengolahan logam. Menurutnya, temuan tersebut memberikan bukti nyata mengenai peran penting wanita sebagai perajin logam bernilai tinggi pada masa lampau.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lanjutan pada struktur tulang, wanita tersebut diperkirakan wafat pada usia di atas 45 tahun dengan indikasi penyakit radang sendi di pergelangan tangan kanannya. Kondisi fisik itu sangat selaras dengan aktivitas penggunaan alat-alat pertukangan logam secara intensif sepanjang hidupnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSisa-sisa jasad dukun kuno yang berusia sekitar 4.000 tahun itu pertama kali ditemukan oleh arkeolog William Cunnington pada tahun 1803 di dekat kawasan monumen megalitikum Stonehenge. Pada masa itu, penemu awal menyimpulkan jasad tersebut milik seorang pria bertubuh gempal hanya berdasarkan ukuran tulang belulangnya.
Peran Logam Emas dan Jejak Spiritual Masa Lampau
Bersamaan dengan kerangka tersebut, tim peneliti menemukan berbagai artefak penunjang seperti kapak perang, peralatan batu khusus untuk mengolah emas, serta jubah berhiaskan tulang hewan. Perlengkapan makam yang megah ini mengindikasikan tingkat keahlian tinggi serta posisi terhormat sang wanita di tengah masyarakat.
Laboratorium Genom Purba di Francis Crick Institute berencana mempublikasikan detail lengkap hasil penelitian ini dalam jurnal ilmiah internasional dalam waktu dekat. Para ahli berharap riset lanjutan ini membuka wawasan baru terkait kedudukan kaum hawa dalam peradaban awal Zaman Perunggu.
Ekskavasi ulang di lokasi pemakaman pada tahun 2000 oleh Dr Colin Shell dan Gill Swanton menemukan jejak mikroskopis serpihan emas pada permukaan peralatan batu yang dikuburkan bersama sang dukun. Peneliti dari Universitas Leicester pada tahun 2022 kemudian mengidentifikasi alat-alat tersebut sebagai instrumen pencampur bahan perekat dan pembuat lembaran emas halus.
Proses transformasi benda-benda biasa menjadi berlapis emas melalui teknik tingkat tinggi di masa itu kerap dianggap sebagai ritual magis yang sakral. Kemampuan langka tersebut menunjukkan bahwa keahlian pertukangan logam pada zaman tersebut sangat erat kaitannya dengan praktik kepercayaan dan religi.
Kurator Wiltshire Museum Lisa Brown menilai pemanfaatan teknologi genom modern memberikan pemahaman komprehensif mengenai arti penting koleksi museum untuk keperluan ilmu pengetahuan. Kolaborasi lintas disiplin ini berhasil merajut kembali kisah masa lalu yang sempat terkubur sekian lama.
Melalui pengujian ilmiah yang mutakhir, para peneliti kini mampu menempatkan sosok wanita di garis depan sejarah peradaban awal manusia. Penemuan ini sekaligus mengubah perspektif dunia modern terhadap kontribusi nyata perempuan dalam perkembangan teknologi kuno.