Produksi telur free-range atau sistem organik di United Kingdom berpotensi meningkatkan emisi gas rumah kaca sekitar 61 persen serta memerlukan hampir dua kali lipat lebih banyak lahan untuk menghasilkan jumlah telur yang sama jika dibandingkan dengan sistem kandang konvensional.
"Differences in production performance among husbandry systems could lead to unintended outcomes," ujar peneliti independen asal Kroasia, Oliver Martinic, mengenai temuan dalam jurnal Royal Society Open Science yang diterbitkan pada Juli.
Para peneliti menjelaskan bahwa ayam dalam sistem kandang konvensional mampu mengonversi pakan menjadi telur secara lebih efisien daripada ayam yang memiliki ruang lebih luas untuk berkeliaran di sistem bebas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeProduksi pakan tercatat sebagai sumber emisi gas rumah kaca terbesar di semua sistem pemeliharaan yang diteliti, karena sistem free-range memerlukan lebih banyak pakan, perumahan, hingga jumlah pemotongan unggas demi menjaga produktivitas.
Kritik Pakar Terkait Data Lama Penelitian Telur
Selain itu, sistem organik free-range memiliki potensi eutrofikasi tertinggi yang dapat menguras oksigen di saluran air dan membahayakan kehidupan akuatik akibat limpasan nutrisi kotoran ayam.
Tingkat kematian ayam tercatat paling rendah pada sistem kandang bers fasilitas sebesar 2,5 persen, sementara sistem lumbung mencapai 6 persen, sistem free-range 7 persen, dan sistem organik free-range mencapai 8 persen.
Sejumlah pakar luar memberikan catatan kritis terhadap studi tersebut karena mengandalkan dataset pembanding dari penelitian yang berusia hampir dua dekade.
"Methodologically flawed," ucap peneliti dari Queen's University Belfast, Ilias Kyriazakis, saat menilai bahwa studi itu tidak cukup memperhitungkan perubahan signifikan dalam industri produksi telur selama bertahun-tahun.
Meskipun demikian, Kyriazakis sepakat dengan kesimpulan umum bahwa dampak lingkungan dan kesejahteraan hewan harus dipertimbangkan secara bersamaan dalam mengevaluasi transisi sistem peternakan ayam.
Para penulis studi menegaskan bahwa temuan ini tidak dimaksudkan untuk menganjurkan kembali ke sistem kandang restriktif, melainkan mendorong produsen dan konsumen agar memahami seluruh dampak secara holistik.
"We want farms and consumers to be aware of all the potential impacts when it comes to the methods by which we produce our food," ungkap peneliti dari University of Oxford, Harriet Bartlett.